<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183</id><updated>2012-02-16T02:04:17.355-08:00</updated><category term='wacana'/><category term='Community Participation - Education'/><category term='vacation'/><category term='role model'/><title type='text'>mumblog</title><subtitle type='html'>I want to share my thought and experiences with my own children and grandchildren. Hopefuly there is something good and important for them to know. With my work as education consultant who stayed mostly far away from them, I believe that I should write something to provide a quite comprehensive information or sometimes I also need to remind and or to be reminded.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-7936673955160535983</id><published>2009-11-26T20:09:00.000-08:00</published><updated>2009-11-26T20:12:43.515-08:00</updated><title type='text'>Surat untuk Pak Muzakir</title><content type='html'>Yth pak Muzakir,&lt;br /&gt;saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman dalam membangun kapasitas dan juga komitmen pemerintah daerah dalam implementasi PAKEM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar sekali apa yang dikatakan pak Sofyan Gani bahwa telah banyak donor yang membantu pemerintah daerah dan pusat dalam membangun kemampuan guru dalam menerapkan MBS dan PAKEM sebagai salah satu pilar yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Yang menurut saya penting selain pelatihan untuk membekali dan meningkatkan kemampuan .guru dalam PAKEM, adalah pendampingan serta monitoring oleh pengawas sekolah/madrasah. Karena itu pengawas sekolah/madrasah juga harus mendapatkan pelatihan mengenai PAKEM dan teknik pendampingannya. Setiap guru yang telah mendapatkan pelatihan PAKEM perlu mendapatkan pendampingan untuk menjamin mereka dapat mengatasi permasalahan dan kesulitan dalam penerapan PAKEM di kelas. Para pelatih/fasilitator kabupaten dan pengawas sekolah/madrasah memberikan pendampingan ke sekolah melalui kegiatan on the job training. Melalui kegiatan ini  kepala sekolah, seluruh guru dan perwakilan Komite Sekolah juga perlu dilibatkan agar penerapan PAKEM di sekolah/madrasah mendapat dukungan secara menyeluruh dari komunitas sekolah. Beberapa gugus binaan program CEPA di Aceh Utara bahkan menggunakan sebagian dana BOS untuk mendanai kegiatan on the job training ini dan juga kegiatan pertemuan KKG.  Melalui cara ini para guru terlatih dapat berbagi pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya kepada guru lain sehingga tidak ada lagi alasan adanya guru yang tidak menerapkan PAKEM karena tidak sempat mengikuti pelatihan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang menurut saya penting adalah dukungan dari Dinas Pendidikan/Kantor Departemen Agama setempat. Dalam pelaksanaan program CEPA di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara, Dinas Pendidikan dan Kantor Departemen Agama menerbitkan surat edaran yang menginstruksikan agar para guru di seluruh madrasah/sekolah menerapkan PAKEM. Hal ini penting mengingat saat ini para guru kita masih berorientasi pada "perintah/instruksi". Saya juga sempat mendengar contoh baik dari beberapa UPTD yang berinisiatif mengadakan pemilihan guru PAKEM (setiap semester). Hal ini cukup ampuh dalam memotivasi guru untuk menerapkan PAKEM secara sungguh-sungguh. Dinas Pendidikan di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen juga sudah mengalokasikan dana pendidikan khusus untuk mengaktifkan kembali KKG, melaksanakan on the job training,  dan pelatihan guru dengan memanfaatkan pelatih kabupaten yang telah dilatih melalui program bantuan donor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ketiga adalah monitoring dan supervisi dari pengawas sekolah/madrasah.  Harus diakui bahwa masih banyak pengawas sekolah yang cenderung terfokus pada hal administratif. Monitoring dan supervisi pengawas perlu secara terpadu diarahkan pada ketiga pilar MBS : manajemen sekolah yang partisipatif, transparan dan akuntabel; pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan; serta partisipasi masyarakat untuk mendukung kegiatan sekolah (komite sekolah). Hasil monitoring ini perlu disampaikan kepada guru, kepala sekolah dan komite sekolah untuk ditindaklanjuti dengan upaya yang relevan; dan akan menjadi bahan supervisi berikutnya.&lt;br /&gt;'&lt;br /&gt;Walaupun isyu ini tidak disampaikan oleh pak Muzakir, saya ingin menyampaikan keprihatinan karena ketika MBS dan PAKEM-nya sudah didiseminasikan dan diinstruksikan untuk dilaksanakan di sekolah dasar, banyak informasi dari teman guru dan kepala sekolah yang berpindah tugas ke sekolah menengah yang menyatakan bahwa MBS dan PAKEM belum diterapkan di tingkat sekolah menengah. Bila ini terus terjadi maka para siswa lulusan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah yang sudah terbangun motivasi dan kreativitasnya akan mengalami kesulitan dan mungkin kejenuhan dan kekecewaan manakala di sekolah menengah mereka kembali harus menghadapi pembelajaran dengan pola tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pak Muzakir, semoga ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Krishna&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-7936673955160535983?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/7936673955160535983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=7936673955160535983' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7936673955160535983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7936673955160535983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/11/surat-untuk-pak-muzakir.html' title='Surat untuk Pak Muzakir'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-7437806097835710978</id><published>2009-11-16T03:55:00.000-08:00</published><updated>2009-11-26T20:32:52.464-08:00</updated><title type='text'>Surat untuk ibu Mimi</title><content type='html'>Dear Ibu Mimi, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus saya belum memiliki pengalaman mengenai isyu yang ibu kemukakan. Sekalipun demikian saya ingin menyampaikan pandangan saya berdasarkan sedikit pengalaman saya dalam rangka penyadaran dalam bidang pendidikan, mudah-mudahan ada manfaatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana mengubah pola pikir/cara pandang masyarakat (mindset) agar bisa menerima hak-hak para penyandang cacat dalam ruang publik? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengubah pola pikir atau cara pandang masyarakat mengenai hak penyandang cacat memang memerlukan usaha yang serius. Untuk bisa mengarusutamakan hak penyandang cacat di ruang publik hal pertama yang harus ada adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;political will&lt;/span&gt; dari para pembuat kebijakan secara lintas sektor. Hanya dengan adanya kehendak politis dari para pembuat kebijakan inilah kita bisa membuka cara pandang masyarakat tentang hak penyandang cacat melalui publikasi, sosialisasi dan advokasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pembuat kebijakan di lintas sektor penting memiliki pemahaman yang utuh dan kesadaran tentang hak penyandang cacat ? Mari kita lihat pengalaman di negara lain sebagai contoh. Hak penyandang cacat sudah diakomodasi dalam berbagai sektor. Semua fasilitas umum diharuskan menyediakan sarana untuk memudahkan akses penyandang cacat. Bahkan jalan-jalan di kampus atau kompleks fasilitas umum juga menyediakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;path way&lt;/span&gt; khusus untuk penyandang cacat netra. Sementara di kampus-kampus kita, bahkan di UPI yang membuka jurusan PLB (pendidikan luar biasa) pun, tidak disediakan jalur khusus untuk memudahkan akses peserta didik tuna netra.  Hal ini merupakan indikasi bahwa kesadaran untuk   memunculkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;political will&lt;/span&gt; itu belum ada, bahkan di kalangan pendidik atau manajer pendidikan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khususnya dan menyadarkan keinginan Mainstreaming Penempatan siswa di kelas reguler akan membuat mereka memiliki lingkungan belajar yang lebih baik, lebih dapat diterima oleh teman mereka yang normal (tidak cacat), dan menjadi lebih mandiri. Pengarusutamaan juga memberikan system pembelajaran yang lebih adaptif bagi individu anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah penting pertama yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran mengenai hak penyandang cacat khususnya pada tingkat pembuat kebijakan dan masyarakat (komunitas) sekolah. Pola pikir dan cara pandang pembuat kebijakan yang sesuai mengenai hak penyandang cacat ini diperlukan agar pengarusutamaan disabilitas mendapat perhatian dan menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan Rencana Strategis Pendidikan di tingkat propinsi maupun kabupaten. Hal ini penting terutama karena pengarusutamaan disabilitas memerlukan strategi dan pendekatan yang komprehensif dan integratif. Di tingkat pembuat kebijakan kelompok sasaran yang strategis adalah Dinas Pendidikan, Kantor Departemen Agama, DPRD, BAPPEDA dan Dewan Pendidikan atau Majelis Pendidikan Daerah (MPD). Upaya penyadaran juga perlu dilakukan pada masyarakat sekolah, termasuk didalamnya kepala sekolah, guru, siswa serta wali murid yang diwadahi dalam organisasi komite sekolah. Masyarakat sekolah merupakan target penting karena siswa penyandang cacat akan berada di lingkungan ini dan kesadaran serta pola pikir masyarakat sekolah ini akan mempengaruhi keberhasilan belajar siswa penyandang cacat melalui penciptaan lingkungan yang kondusif baik di dalam maupun di luar ruang kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha mengubah pola pikir dan cara pandang mengenai hak penyandang cacat, khususnya dalam pengarusutamaan disabilitas, dapat kita sajikan argument yang mendukung pengarusutamaan maupun yang menentangnya. Hal ini dikarenakan pada dasarnya setiap manusia akan menerima (mengadopsi) suatu pola pikir bila mereka mengetahui keuntungan atau kemanfaatkan dari konsep yang kita tawarkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data mengenai jumlah dan sebaran siswa cacat juga perlu disajikan dalam kegiatan sosialisasi dan advokasi karena khususnya di tingkat masyarakat sekolah masih ditemukan banyak masyarakat sekolah yang berargumen bahwa di lingkungan sekitar sekolah tidak terdapat anak cacat sehingga sekolah tidak perlu melakukan tindakan antisipasi (misalnya : menyiapkan ramp untuk memudahkan akses bagi anak cacat, toilet khusus untuk siswa cacat, dll).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Strategi apa yang dapat diterapkan untuk mengarusutamakan disabilitas ke dalam sistem pendidikan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Strategi pertama adalah menjamin bahwa pengarusutamaan disabilitas masuk ke dalam Rencana Strategis Pendidikan. Hanya dengan masuk ke dalam Renstra Pendidikan maka pengarusutamaan disabilitas bisa didekati secara komprehensif dan terpadu integrated).  Telah sama kita ketahui bahwa pengarusutamaan disabilitas hanya bisa berhasil bila didukung oleh kebijakan dan aturan yang kuat, pengembangan kapasitas (capacity building) yang memadai, penyediaan tenaga dan bantuan teknis dan konsultasi dari tim ahli,  serta penyediaan sarana dan fasilitas yang sesuai. &lt;br /&gt;Pengarusutamaan disabilitas juga harus meliputi penjaminan dilakukannya deteksi dini, intervensi, layanan terapetik, dan penyediaan alat bantu untuk anak/siswa cacat. Untuk memfasilitasi pengarusutamaan disabilitas pada sekolah formal maupun non-formal perlu juga dilakukan penguatan kapasitas guru dan pengawas sekolah serta pelatih/fasilitator kabupaten dan propinsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan terhadap pengarusutamaan disabilitas juga kadang muncul dari kalangan orangtua siswa. Orangtua siswa cacat terkadang ragu atau khawatir untuk memasukkan anaknya ke sekolah karena biaya (cost) yang mereka keluarkan tidak akan sebanding dengan nilai manfaat yang akan mereka terima kelak (return). Sementara banyak orangtua siswa normal (non-disabled) yang berfikir bahwa adanya siswa cacat dikelas anak mereka hanya akan merugikan anak mereka (missal : kurang mendapat perhatian guru karena guru terserap waktu dan perhatiannya untuk siswa yang cacat, dsb).  Dalam hal ini maka Komite Sekolah di tingkat komunitas sekolah dan Dewan Pendidikan atau Majelis Pendidikan Daerah di tingkat kabupaten bertanggung jawab dalam upaya penyadaran masyarakat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan UNICEF Regional Asia Selatan di Bangladesh menunjukkan tingginya anak penyandang cacat yang tidak dapat mengikuti pendidikan di sekolah karena kemiskinan (tingginya biaya untuk menyekolahkan anak penyandang cacat yang tidak sebanding dengan apa yang dapat dihasilkannya kelak di pasar kerja). Penelitian juga menunjukkan tingginya  angka drop out siswa penyandang cacat, karena sikap dan lingkungan yang tidak ramah (unfriendly) baik di rumah maupun sekolah. Siswa penyandang cacat kerap mendapat perlakuan yang kurang layak dari teman-temanya, dan kebanyakan guru dan pengelola di sekolah juga tidak terlalu memahami ide tentang pendidikan inklusif. Selain itu infrastruktur sekolah juga seringkali tidak ramah (unfriendly) dilihat dari sisi mobilitas siswa. Banyak sekolah  misalnya yang tidak memiliki ramp (akses berupa jalan  yang landai) yang dapat dilalui kursi roda. Pintu ruang kelas pun tidak cukup lebar untuk bisa dilalui kursi roda. Pengelolaan kelas atau pengaturan perabot di ruang kelas kurang mempertimbangkan kebutuhan anak cacat. Belum lagi toilet yang disediakan khusus untuk anak cacat. &lt;br /&gt;Dari uraian di atas jelas bahwa strategi pengarusutamaan disabilitas harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. &lt;br /&gt;• Kebijakan dan aturan yang menegaskan kewajiban dan tanggung jawab sekolah untuk menerima dan melayani siswa cacat&lt;br /&gt;• Aturan tentang standar bangunan dan fasilitas sekolah yang responsif terhadap kebutuhan anak/siswa cacat. Saat ini sedikit sekali sekolah yang memiliki ramp (jalan yang landai) untuk memudahkan akses siswa yang menggunakan kursi roda. Belum lagi lebar pintu ruang kelas yang terlalu sempit untuk dapat dilalui oleh kursi roda, serta toilet yang dibangun tanpa memperhatikan kebutuhan siswa penyandang cacat.  &lt;br /&gt;• Sistem pre-service dan in-service training bagi guru reguler dalam teknik memfasilitasi siswa cacat. Para guru perlu mendapatkan orientasi mengenai berbagai kecacatan pada siswa dan pelatihan dasar (basic training) tentang bentuk komunikasi bagi siswa tuna rungu dan tuna netra. Para guru juga perlu dilatih dalam metoda mengajar untuk memfasilitasi siswa cacat karena metoda mengajar tradisional sangat terbatas diarahkan untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang tentunya berbeda. Selain itu kebutuhan akan alat dan bahan belajar pun berbeda bagi siswa penyandang cacat. &lt;br /&gt;• Dukungan berbasis sekolah. Sekolah dapat membentuk tiga jenis tim pendukung. Tim pertama adalah untuk menjamin siswa cacat hadir di sekolah secara reguler. Tim ini terutama bertugas memberikan dukungan moral bagi keluarga-keluarga yang memiliki siswa cacat,  mengorganisasikan interaksi diantara mereka dan menjaminj bahwa anak-anak mereka hadir secara reguler di sekolah. Tim pertama bisa dibentuk dari para orangtua siswa di bawah tanggung jawab komite sekolah. Tim kedua terdiri dari para guru yang sebelumnya telah dilatih mengenai pendidikan inklusif. Tim ini bertanggung jawab untuk memberikan orientasi kepada guru baru dan para siswa tentang isyu disabilitas. Tim ketiga terdiri dari para siswa yang dipilih berdasarkan minat, kesediaan dan kesukarelaan mereka dalam membantu siswa cacat. Tugas utama mereka adalah membantu siswa cacat dalam kegiatan di ruang kelas maupun area bermain. Mereka juga diharapkan dapat mengunjungi rumah siswa cacat bila dalam beberapa hari siswa tersebut tidak masuk sekolah. &lt;br /&gt;• Supervisi dan monitoring. Supervisi program pendidikan inklusif perlu dilakukan pada berbagai tingkatan, di dalam dan di luar sekolah. Kepala sekolah melakukan supervisi terhadap kegiatan yang dilakukan di sekolah. Pengawas sekolah dan kepala UPTD  melakukan supervisi terhadap pelaksanaan pengarusutamaan disabilitas di tingkat gugus dan kecamatan, sementara Dinas Pendidikan dan Kantor Departemen Agama (seksi Mapenda) melakukan supervisi untuk tingkat kabupaten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana memasukkan pemajuan tentang pemahaman disabilitas ke dalam pelajaran di sekolah-sekolah yang dapat memperkuat prinsip "Bhineka Tunggal Ika" dalam sistem pendidikan kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya memasukkan pemahaman tentang adanya siswa yang berbeda (berkebutuhan khusus) tidak perlu selalu dilakukan dengan mengintegrasikan kedalam pelajaran, walaupun tentu saja sebaiknya siswa (non disabled) lebih dulu perlu diberi orientasi mengenai anak berkebutuhan khusus atau cacat. Dengan melibatkan siswa secara aktif ke dalam kegiatan tim sekolah untuk mendukung anak berkebutuhan khusus, mereka bukan hanya akan memiliki pemahaman mengenai hal itu melainkan juga kemampuan dalam membangun hubungan sosial yang positif dengan berbagai ragam kelompok social. Kemampuan yang kelak akan dibutuhkan dan sangat penting untuk keberhasilannya dalam kehidupan di lingkungan kerja, keluarga maupun masyarakat. Selain itu siswa juga akan meningkat self-esteem-nya, perilakunya tidak diskriminatif , keterampilan interpersonalnya meningkat (misalnya: berkolaborasi, kerjasama, dll), dan memiliki perilaku sosial yang positif (ramah, rendah hati, dll). &lt;br /&gt;Penyediaan fasilitas dan atau pengelolaan ruang kelas yang responsif terhadap siswa berkebutuhan khusus secara tidak langsung juga akan membangun pemahaman dan kesadaran siswa non-disabled mengenai karakteristik dan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-7437806097835710978?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/7437806097835710978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=7437806097835710978' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7437806097835710978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7437806097835710978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/11/surat-untuk-ibu-mimi.html' title='Surat untuk ibu Mimi'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-8533952562333054698</id><published>2009-10-19T18:44:00.001-07:00</published><updated>2009-10-20T04:09:13.686-07:00</updated><title type='text'>Qanun MPD Aceh Utara</title><content type='html'>Menurut pengakuan pengurus MPD dari Kabupaten Bireuen, Aceh Utara dan Pidie Jaya, lokakarya MPD dan Komite Sekolah mengenai peran kedua lembaga tersebut dalam kancah pembangunan pendidikan seolah membangunkan kembali kesadaran mereka mengenai posisi dan peran penting kedua lembaga tersebut. Lokakarya yang dilakukan pada pertengahan 2008 itu kemudian ditindaklanjuti dengan reviu dan kemudian pengembangan petunjuk teknis komite sekolah. Selanjutnya bahkan MPD bersama pemangku kepentingan terkait menyusun Modul Pemberdayaan Komite Sekolah yang akan digunakan dalam pelatihan dan pendampingan bagi komite sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Majelis Pendidikan Daerah untuk mengaktualisasikan peran dan fungsinya diwujudkan dengan penyusunan Qanun tentang peran MPD. Apa yang dilakukan MPD ini juga mendapat respon positif dari Dinas Pendidikan dan Kantor Departemen Agama, bahkan oleh DPRK setempat. Tanggal 28 Agustus 2009 lalu melalui suatu rapat pembahasan DPRK Kabupaten Aceh Utara telah menyetujui dan mensahkan Qanun MPD tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkannya Qanun MPD merupakan perkembangan penting karena bukan hanya memperkuat dasar hokum keberadaan MPD dan hubungan kelembagannya dengan komite sekolah, melainkan juga memperkuat MPD dengan wewenang dan sumber-sumber yang diperlukan PMD untuk bisa melakukan tugasnya secara lebih efektif dalam tata kelola pendidikan di kabupaten. Walaupun CEPA tidak terlibat langsung dengan proses legislasi, hubungan kerja yang erat dengan MPD dalam tata kelola pendidikan di tingkat kabupaten telah memainkan peranan penting dalam meningkatkan relevansi, kapasitas dan kredibilitas MPD dalam perannya yang strategis tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/St0XC-DaCdI/AAAAAAAAALM/opNLg_D8S0c/s1600-h/IMG_0820.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/St0XC-DaCdI/AAAAAAAAALM/opNLg_D8S0c/s320/IMG_0820.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394493268444187090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-8533952562333054698?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/8533952562333054698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=8533952562333054698' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8533952562333054698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8533952562333054698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/10/qanun-mpd-aceh-utara.html' title='Qanun MPD Aceh Utara'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/St0XC-DaCdI/AAAAAAAAALM/opNLg_D8S0c/s72-c/IMG_0820.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-2950285262961581421</id><published>2009-10-19T16:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T17:04:22.657-07:00</updated><title type='text'>Pemilihan komite sekolah yang representatif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Stz-aefEQNI/AAAAAAAAALA/mpYE_YYES7k/s1600-h/IMG_0765.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Stz-aefEQNI/AAAAAAAAALA/mpYE_YYES7k/s320/IMG_0765.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394466184496431314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 044/U/2002 tentang Komite Sekolah mengamanatkan prinsip tata kelola yang baik, namun dalam kenyataannya di lapangan kurang memberikan panduan praktis/teknis untuk penerapannya. Dalam banyak kasus pembentukan Komite Sekolah hanya dilakukan berdasarkan penunjukkan oleh kepala sekolah. Karena itulah maka adanya panduan atau petunjuk teknis dirasakan penting, karena bisa membantu menjamin diterapkannya praktek partisipasi dan akuntabilitas dalam prosesnya, yang sebaliknya juga berkontribusi terhadap munculnya kepercayaan pimpinan dan warga masyarakat khususnya pada masyarakat pasca konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Pendidikan Daerah (MPD) dari 3 kabupaten di Aceh (Bireuen, Aceh Utara dan Pidie Jaya) melalui serangkaian lokakarya telah berhasil menyusun Petunjuk Teknis Pemilihan Komite Sekolah. Karakteristik kunci dari Petunjuk Teknis ini meliputi : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Proses pemilihan yang dilakukan secara transparan, inklusif dan berskala luas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(broad based)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;• Keterwakilan perempuan minimum 30 % dalam Komite Sekolah &lt;br /&gt;• Verifikasi dan pengesahan Komite Sekolah oleh MPD untuk menjamin independensi proses pemilihan komite sekolah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan Petunjuk Teknis Pembentukan Komite Sekolah tersebut, MPD Kabupaten Bireuen telah memfasilitasi pemilihan dan pengesahan Komite Sekolah di 29 sekolah (25 SD dan 4 MIN) di 4 gugus di Kabupaten Bireuen. Di Kabupaten Aceh Utara, MPD juga sudah mensosialisasikan Petunjuk Teknis ini kepada seluruh UPTD dan perwakilan Komite Sekolah dan Kepala Sekolah dari seluruh jenjang pendidikan. Lebih jauh Dinas Pendidikan dan Kantor Departemen Agama Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara telah menerbitkan surat edaran yang menginstruksikan agar seluruh sekolah/madrasah (tingkat dasar sampai menengah) menggunakan petunjuk teknis tersebut dalam pelaksanaan pemilihan komite sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu bulan terakhir (Oktober 2009) sejumlah sekolah (termasuk diantaranya satu SMA di kecamatan Muara Batu)  telah melaksanakan pemilihan komite sekolah dengan menggunakan petunjuk teknis tersebut. Hasil pantauan terhadap pelaksanaan pemilihan komite sekolah di beberapa sekolah menunjukkan antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam prosesnya. Jumlah masyarakat yang hadir dalam pemilihan komite sekolah tercatat lebih dari 100 orang. Hal ini juga dapat dilihat sebagai antusiasme masyarakat terhadap keterbukaan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pemilihan dan pembentukan Komite Sekolah di 4 gugus di kabupaten Bireuen mengacu kepada Petunjuk Teknis di atas telah menghasilkan perubahan yang signifikan pada komposisi Komite Sekolah. Perubahan terpenting adalah meningkatnya keterwakilan unsur masyarakat dan unsur perempuan dalam komite sekolah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petunjuk Teknis juga dilengkapi dengan Modul Pelatihan untuk memperkuat :&lt;br /&gt;• Prinsip Pembentukan Komite Sekolah &lt;br /&gt;• Peran dan Tanggung Jawab Komite Sekolah &lt;br /&gt;• Administrasi dan Pelaporan Sederhana&lt;br /&gt;• Aturan dan prosedur penyusunan AD/ART Komite Sekolah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEPA juga telah berkontribusi dalam melakukan pelatihan bagi calon pelatih kabupaten untuk memfasilitasi pemilihan komite sekolah dan pemberdayaannya. Komite Sekolah tidak akan mampu melaksanakan peran dan fungsinya secara efektif manakala tidak dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan seusai mereka terpilih. Untuk menjamin pembinaan yang berkelanjutan terhadap komite sekolah ini maka MPD perlu diperkuat dengan sejumlah pelatih kabupaten untuk memfasilitasi dan mendampingi komite sekolah. Forum Komite Sekolah perlu juga dibentuk dan difungsikan sebagai wadah dimana komite sekolah dalam satu kecamatan bisa saling belajar dan berbagi pengalaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-2950285262961581421?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/2950285262961581421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=2950285262961581421' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2950285262961581421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2950285262961581421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/10/pemilihan-komite-sekolah-yang.html' title='Pemilihan komite sekolah yang representatif'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Stz-aefEQNI/AAAAAAAAALA/mpYE_YYES7k/s72-c/IMG_0765.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-4958519415157788405</id><published>2009-10-19T15:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T16:31:43.027-07:00</updated><title type='text'>Tak ada halangan untuk KKG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Stz1Lp_6KZI/AAAAAAAAAK0/GxQb0dm7fF0/s1600-h/IMG_0249.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Stz1Lp_6KZI/AAAAAAAAAK0/GxQb0dm7fF0/s200/IMG_0249.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394456034284284306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKG atau Kelompok Kerja Guru yang diperkenalkan melalui program PEQIP (Primary Education Quality Improvement Project) beberapa dasawarsa lalu seakan mati suri. Mereka ada tetapi sebagian besar KKG di gugus-gugus tidak beroperasi sebagaimana yang diharapkan. Sebagian besar gugus mengaku hal itu dikarenakan ketiadaan biaya, sebagian lainnya beralasan karena ketersediaan tutor serta kemampuan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi ketiadaan biaya untuk pelaksanaan KKG, karena Dinas Pendidikan tidak lagi menyediakan dana untuk operasional KKG, di Gugus 4 Matangkuli (Paya Bakong) Kabupaten Aceh Utara  6 SDN dan 1 MIN beriuran menggunakan Dana BOS untuk kegiatan KKG dan KKKS. Jumlah total dana BOS yang dialokasikan untuk kedua kegiatan ini adalah Rp 18.930.000 (delapan belas juta sembilan ratus tiga puluh ribu rupiah) untuk membiayai 17 pertemuan KKG (uang transport peserta dan fee untuk tutor /nara sumber). Jumlah dana dan rencana penggunaannya disampaikan oleh Bapak Abdullah, Kepala SDN 1 Paya Bakong sebagai Kepala SD Inti. Program KKG dirancang bersama para guru dengan dampingan dari Kepala UPTD dan pengawas sekolah/madrasah untuk menjamin kesesuaiannya dengan kebutuhan praktis para guru di lapangan serta sasaran pembangunan pendidikan. Tutor untuk kegiatan KKG adalah alumni pelatihan PAKEM yang pada bulan sebelumnya telah diselenggarakan oleh CEPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diungkapkan Kepala UPTD Matang Kuli Bapak Sarjan, SPd agar KKG bisa menjadi show room, workshop, bengkel,dan doorsmeer sungguh menarik. Maksudnya KKG harus menjadi ajang dimana para guru bisa memamerkan hasil karyanya berupa teknik dan metoda baru, media pengajaran yang praktis dan murah, dll. KKG harus menjadi tempat dimana para guru bisa bekerja dan belajar bersama untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran siswa dan menghasilkan inovasi dalam pembelajaran. KKG harus mampu memperbaiki atau meningkatkan kinerja guru, mengubah keadaan guru dari tidak mampu menjadi lebih mampu. Dan KKG juga harus mampu mencuci dan membersihkan guru dari pandangan, sikap dan perilaku yang kurang tepat dalam posisi sebagai guru yang pada dasarnya adalah model yang seyogianya layak digugu (diikuti) dan ditiru (dicontoh). Ungkapan Kepala UPTD ini membumikan peran dan fungsi KKG sebagaimana diamanatkan sejak pencanangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/StztVdAixNI/AAAAAAAAAKo/WAHwzvg7nz4/s1600-h/IMG_0899.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/StztVdAixNI/AAAAAAAAAKo/WAHwzvg7nz4/s200/IMG_0899.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394447406502954194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan KKG di Gugus 1 Peusangan – Kabupaten Bireuen sudah mencerminkan kegiatan yang cukup baik. Para guru yang telah dilatih PAKEM menjadi tutor dalam pertemuan KKG. KKG menjadi tempat dimana guru dapat saling belajar, menciptakan dan mencobakan alat dan metoda baru, meningkatkan semangat kerjasama sekaligus semangat untuk berkompetisi. Melalui KKG apa yang diperoleh guru dalam pelatihan, dapat dibagikan kepada guru lain yang tidak memiliki kesempatan mengikuti pelatihan. Melalui KKG para guru dapat bersama-sama memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengatasi kesulitan dalam mengelola pembelajaran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-4958519415157788405?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/4958519415157788405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=4958519415157788405' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4958519415157788405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4958519415157788405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/10/tak-ada-halangan-untuk-kkg.html' title='Tak ada halangan untuk KKG'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Stz1Lp_6KZI/AAAAAAAAAK0/GxQb0dm7fF0/s72-c/IMG_0249.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-8216879391204837749</id><published>2009-05-30T09:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-30T09:29:02.890-07:00</updated><title type='text'>Kehilangan</title><content type='html'>Kita tak pernah tahu atau pun mengerti apa rencana Tuhan. Dalam 2 minggu terakhir, dua kakak iparku dipanggil Tuhan. Bagiku, kakak ipar adalah kakakku juga. Mereka memperlakukan dan menyayangiku seperti adik kandungnya, demikian juga aku menyayangi  mereka seperti kakak kandungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, Tuhan melakukan apa yang terbaik bagi mereka. Sudah saatnya mereka dipanggil pulang. Sudah cukup mereka melakukan tugas dan tanggung jawabnya bagi keluarga mereka, dengan cara yang terbaik. They were loving fathers and husbands. Bagaimanapun, kehilangan itu tetap terasa. Terlebih karena aku tak dapat berkumpul bersama keluarga, tak dapat menghibur anak-anak mereka yang pastinya paling merasa kehilangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepadaMu ya Allah aku meminta, jaga dan peliharalah keluarga yang ditinggalkan. Bagimu yang Maha Segalanya, jarak bukanlah masalah. Tak ada yang tak mungkin bagiMu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saatnya tiba, semoga aku pun bisa dikenang semua orang secara baik. Kehilangan hanya terasa bila kita ditinggalkan oleh orang yang baik. Kekayaan, kepandaian, tak cukup untuk membuat kita dikenang orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-8216879391204837749?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/8216879391204837749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=8216879391204837749' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8216879391204837749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8216879391204837749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/05/kehilangan.html' title='Kehilangan'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-8797233716098645558</id><published>2009-05-04T21:02:00.001-07:00</published><updated>2009-05-05T02:13:19.235-07:00</updated><title type='text'>Astrology</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;If someone offers to cut corners for you today, don't take them up on it. Be honest. Try to tackle a big new project -- even if you don't have anything planned. It's a good time for you to move out in a new direction or to show someone close to you what you are capable of.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayakah anda pada ramalan bintang? Saya tak tahu bagaimana benarnya, apakah boleh kita percaya pada ramalan bintang? Sejauh ini saya tak terlalu gemar membaca ramalan bintang, selain karena pernah mendengar ucapan seseorang yang menyatakan bahwa membaca ramalan bintang itu tidak sesuai dengan ajaran agama, juga karena banyak ramalan bintang yang mungkin ditulis oleh orang iseng yang tak menguasai ilmu astrologi, sehingga ramalan bintangnya terkesan tak bermutu bahkan tak layak dibaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kadang ada ramalan bintang (atau mungkin tepat dikatakan hasil bacaan astrologi?), yang rasa-rasanya pantas untuk dibaca. Coba lihat apa yang disampaikan tentang hasil bacaan astrologi tentang orang yang memiliki bintang sama dengan saya. bahwa " &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Making the right choices in life can be hard to do, but no one else is going to do the job today -- it's up to you. But you're ready for this kind of pressure, in fact you kind of like it! Look at the situation, pick the path that offers the least amount of risk, and you should be fine. You are a strong person, whose level of strength has yet to be fully explored. Have confidence that even if all the hard times are not behind you right now, they are at least going away very soon".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu penuh semangat positif dan kearifan. Terus terang baru sekitar 3 (tiga) hari ini saya membaca hasil astrology dan menjadi tertarik karena walaupun soal kebenarannya saya bisa bilang "wallahu a'lam bisawab", paling tidak saya merasa diingatkan dan dicerahkan. Diingatkan bahwa ada nilai positif di diri kita yang tidak sepantasnya (di)hilang(kan) karena alasan apapun. Diingatkan agar kita tidak menghalalkan segala cara, walau mungkin ada sesuatu yang mengganggu atau ada seseorang yang mengecewakan kita. Dikuatkan dengan keyakinan bahwa walaupun hal yang sulit, berat dan menyakitkan belum lah berlalu; hal-hal itu akan segera berlalu. Pasti! Itulah sebabnya mungkin saya akan melanjutkan membaca hasil astrology. Itulah sebabnya saya ingin berbagi tulisan ini. Semoga ada manfaatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-8797233716098645558?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/8797233716098645558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=8797233716098645558' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8797233716098645558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8797233716098645558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/05/astrology.html' title='Astrology'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-2638840345605674077</id><published>2009-04-25T20:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T22:10:28.750-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Community Participation - Education'/><title type='text'>Bagaimana Mengukur PSM ?</title><content type='html'>Pelibatan masyarakat diposisikan sebagai hal penting dan utama dalam paradigma pembangunan saat ini. Para ahli percaya pelibatan masyarakat dalam seluruh tahapan pembangunan akan meningkatkan kesiapan masyarakat, bukan hanya dalam menikmati hasil pembangunan melainkan juga dalam melanjutkan upaya pembangunan yang telah dilakukan. Pelibatan masyarakat dalam pembangunan pada dasarnya merupakan salah satu cara untuk membantu masyarakat membantu diri mereka sendiri, atau untuk memandirikan masyarakat (to help people so they can help themselves). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia kita biasa menggunakan istilah PSM (Peran Serta Masyarakat) dalam menyebut partisipasi masyarakat. Dalam pembangunan pendidikan, PSM juga dipandang sebagai faktor penting. Di dalam UUSPN ditegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya berada di tangan pemerintah melainkan juga di tangan masyarakat. Implikasinya adalah masyarakat perlu secara aktif terlibat dalam seluruh tahapan pembangunan pendidikan,sejak perencanaan sampai dengan evaluasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan Komite Sekolah di tingkat sekolah/madrasah, Forum Komunikasi Komite Sekolah di tingkat kecamatan dan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) atau Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten dan propinsi pada hakekatnya bertujuan untuk mengakomodasi pentingnya pelibatan masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Sayangnya harus diakui bahwa pembentukan wadah tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam mewarnai dan menghasilkan kebijakan pendidikan yang lebih berpihak kepada masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEPA Phase 2 memiliki tujuan besar yaitu peningkatan kualitas pelayanan pendidikan di tingkat dasar khususnya. Dengan menggunakan paradigma pembangunan berbasis masyarakat, program ini diarahkan pada peningkatan kesiapan dan kemampuan masyarakat dalam mendukung pembangunan pendidikan. Tentu saja program ini disusun dan dikembangkan dengan kepercayaan bahwa partisipasi masyarakat dapat ditingkatkan, sekalipun wilayah kerja program ini adalah daerah pasca konflik, dimana masyarakat selama bertahun-tahun telah mengalami masa konflik yang sedikit banyak menurunkan kepercayaan mereka kepada pemerintah dan pihak lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita seyogianya mengukur keberhasilan program yang berbasis masyarakat? Lebih khususnya, bagaimana kita mengukur hasil dan pengaruh dari PSM? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab berkaitan dengan PSM ini. &lt;br /&gt;1. Perubahan apa yang sudah dicapai sebagai hasil dari partisipasi dan kolaborasi staf dan anggota masyarakat? &lt;br /&gt;2. Sudahkah perubahan yang ingin dilihat masyarakat dilaksanakan? &lt;br /&gt;3. Bila perubahan tidak dapat dilakukan, bagaimana kaitannya dengan kepuasan masyarakat? &lt;br /&gt;4. Faktor apa yang dikenali sebagai penghalang dalam perubahan partisipasi masyarakat dan bagaimana hal tersebut diatasi? &lt;br /&gt;5. Apakah masyarakat puas dengan kesempatan yang mereka miliki untuk didengar dan mempengaruhi pembuatan keputusan? &lt;br /&gt;6. Di lapis/tingkat manakah partisipasi paling sering terjadi? &lt;br /&gt;7. Apakah ada hubungan dan kemitraan baru yang saling menguntungkan, yang terjalin antara masyarakat dan pemerintah? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebaiknya pertanyaan untuk mengevaluasi PSM disampaikan pada saat program masih berlangsung sehingga kita bisa mengenali masalah yang muncul dan segera melakukan usaha untuk mengatasinya. Pertanyaan perlu diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan dan sumber yang ada di masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berapa banyak kegiatan yang memberikan peluang untuk partisipasi masyarakat? &lt;br /&gt;2. Berapa jumlah orang yang mengikuti kegiatan tersebut? &lt;br /&gt;3. Bagaimana distribusi peserta kegiatan menurut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;socio-demographic&lt;/span&gt; ? Apakah itu mencerminkan ketertarikan dan kepentingan masyarakat terhadap program? &lt;br /&gt;4. Apakah partisipasi secara inklusif melibatkan seluruh kelompok pemangku kepentingan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(stakeholders)&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;5. Apakah keragaman partisipan (masyarakat)dihargai ? &lt;br /&gt;6. Apakah yang menjadi penghalang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan bagaimana program mengatasi hal ini? &lt;br /&gt;7. Apakah partisipasi masyarakat terus bertahan ataukah mereka menghilang setelah beberapa kali pertemuan? &lt;br /&gt;8. Apakah pemerintah dan masyarakat siap untuk bekerja dalam kemitraan? &lt;br /&gt;9. Bagaimana pendapat masyarakat mengenai pengalaman mereka terlibat dalam program? &lt;br /&gt;10. Apakah organisasi (CEPA) dan staffnya telah belajar sesuatu dan perubahan apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan proses partisipasi ? &lt;br /&gt;11. Apakah seluruh pemangku kepentingan merasa puas dengan kualitas pelibatan masyarakat? &lt;br /&gt;12. Sudahkah terjadi komunikasi yang efektif dan efisien diantara seluruh pemangku kepentingan? &lt;br /&gt;13. Apakah seluruh informasi yang relevan sudah dikomunikasikan dengan seluruh pemangku kepentingan secara terbuka? &lt;br /&gt;14. Apakah partisipan masyarakat sudah dilibatkan dalam perencanaaan dan evaluasi strategi partisipasi?  &lt;br /&gt;15. Apakah strategi partisipasi sudah sesuai/tepat? &lt;br /&gt;16. Bagaimana konflik dikelola? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan berkaitan dengan kapasitas dan dukungan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah partisipan puas dengan tingkat dukungan (support) yang diterima? &lt;br /&gt;2. Apakah staf memiliki keterampilan, pengetahuan dan keyakinan (confidence) untuk memberi dukungan bagi masyarakat? Bila tidak, bagaimana hal ini diatasi? &lt;br /&gt;3. Apakah partisipan menghargai keahlian dan masukan dari staf? &lt;br /&gt;4. Apakah masyarakat sudah memiliki kemampuan yang memadai (sufficient) untuk berpartisipasi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab berkaitan dengan PSM, jelas ternyata bahwa implementasi program pembangunan berbasis masyarakat seyogianya dibarengi dengan evaluasi yang memadai. Evaluasi yang akan mampu memberikan kita informasi untuk perbaikan program belikutnya serta informasi yang dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah untuk melanjutkan menerapkan strategi pembangunan berbasis masyarakat. Evaluasi akan memberikan bukti yang benar dan dapat dipercaya mengenai keberhasilan program dan atau pelajaran yang dapat diambil (lessons learnt) dari suatu program.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-2638840345605674077?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/2638840345605674077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=2638840345605674077' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2638840345605674077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2638840345605674077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/04/bagaimana-mengukur-psm.html' title='Bagaimana Mengukur PSM ?'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-7554916946025212145</id><published>2009-03-20T04:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T05:43:37.857-07:00</updated><title type='text'>Isyu pendidikan di NAD</title><content type='html'>Dalam harian Serambi Kamis 19 Maret 2009 diberitakan tentang pertemuan di Meuredu yang membahas mengenai isyu pendidikan di NAD. Dalam pertemuan tersebut Anas M. Adam, mantan Kepala Dinas NAD menyatakan bahwa untuk NAD dana bukanlah kendala untuk pembangunan pendidikan. Pernyataan tersebut didasarkan pada pengetahuannya bahwa dana untuk pendidikan di NAD telah, sedang dan akan terus diluncurkan baik oleh pemerintah RI maupun oleh donor internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas lebih lanjut menyebutkan adanya tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan di NAD, yaitu distribusi guru, dukungan orang tua terhadap belajar murid dan tidak adanya sarana dan prasarana yang mendukung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai distribusi guru Anas mencontohkan secara lebih rinci bagaimana kondisi distribusi guru di NAD. Masih banyak ditemukan guru yang mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan keahliannya. Guru matematika mengajar Bahasa Indonesia, ahli administrasi pendidikan mengajar Kimia, dll. Tentu dengan mudah kita dapat membayangkan atau memperkirakan bagaimana hasil pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang tidak memiliki kualifikasi atau kemampuan yang sesuai dengan yang disyaratkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kabupaten Bireuen masalah distribusi dan penempatan guru bukan hanya berkaitan dengan ketidaksesuaian kualifikasi dengan penugasan, melainkan juga berkaitan dengan penempatan guru. Di tingkat sekolah dasar misalnya, tampak jelas penempatan guru yang tidak merata. Hampir setengah dari jumlah sekolah binaan di gugus Jeunib dan Simpang Mamplam yang terletak di bagian barat kabupaten ini, masih memiliki guru dalam jumlah yang terbatas. SDN 17 Simpang Mamplam misalnya hanya memiliki 3 (tiga) guru yang berstatus pegawan negeri. Karena sekolah tidak mampu membiayai pengadaan guru honor, maka ketiga guru ini harus mengajar dalam dua shift, pagi dan siang hari. Sementara di gugus Peusangan, terdapat sekolah yang memiliki jumlah guru 19 orang (SDN 8 Peusangan) walaupun di sekolah ini hanya terdapat 9 rombongan belajar. Ini hanyalah sekelumit contoh tentang distribusi guru yang tidak merata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyu mengenai distribusi guru ini juga pernah diungkapkan oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Bireuen dalam suatu acara Diskusi Publik tentang partisipasi masyarakat untuk pendidikan. Beliau yang didampingi Kepala Bidang Data dan Informasi Pendidikan menyatakan bahwa tidak mudah membenahi masalah distribusi ini. Walaupun tidak diucapkan secara eksplisit, tersirat bahwa saat ini pemerintah  memang masih belum bisa secara tegas menempatkan guru di satu sekolah karena adanya katebelece. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah pemerintah daerah mengubah cara pandang dan sikap dalam membuat keputusan? Dinas Pendidikan di seluruh kabupaten di NAD sudah mendapat advokasi dan pendampingan dalam penyusunan Rencana Strategis Pendidikan. Dinas Pendidikan sudah mendapat bantuan dan pendampingan dalam penyusunan sistem informasi pendidikan. Tetapi bila pemerintah daerah belum memiliki komitmen untuk mengubah cara dalam pembuatan kebijakan pendidikan, masih lebih memperhatikan kepentingan pribadi atau golongan daripada memperhatikan kepentingan bagi pembangunan SDM itu sendiri, maka sampai kapan pun pembangunan pendidikan di NAD tidak akan mampu menghasilkan manusia yang berkualitas. Seharusnya dengan segala bantuan yang belakangan diterima NAD, pendidikan di propinsi ini akan mampu menghasilkan manusia yang memiliki keunggulan kompetitif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai dukungan orang tua terhadap pendidikan, harus diakui bahwa belakangan perhatian dan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak secara umum menurun. Di beberapa sekolah yang sempat saya kunjungi, saya masih menemukan anak kelas 3 yang belum bisa menulis. Hal ini menurut saya cukup aneh. Aneh bila ada anak kelas 3 yang belum bisa menulis kalimat bahkan kata dengan benar. Jelas bahwa guru kurang memberikan bantuan individual untuk anak yang mengalami kesulitan dalam membaca dan jelas bahwa orang tua tidak cukup membantu anak dalam belajar. AIP CEPA melalui program yang dilaksanakan di 2 kabupaten (44 sekolah dan 8 madrasah) berkontribusi dalam membangun kembali kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk mendukung belajar anak sekaligus mendukung program sekolah. Kabar dari lapangan menyatakan telah terjadinya perubahan di sejumlah sekolah. Kehadiran siswa di SDN 5 Baktiya pada musim panen padi meningkat dibandingkan dengan musim panen sebelumnya. Di SDN 4 Muara Batu masyarakat termasuk mantan kombatan GAM dan geuchik (kepala desa), menyumbang sejumlah dana untuk membeli 364 m2 tanah untuk pembangunan ruang kelas baru. Perubahan ini sungguh membanggakan dan semoga dapat ditularkan ke gugus dan sekolah lain di NAD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan sarana dan prasarana pendidikan ? Berbicara mengenai prasarana maka yang paling menonjol di sekolah/madrasah di NAD adalah terbatasnya gugus sekolah yang memiliki Pusat Kegiatan Guru (PKG), serta ketiadaan atau tidak berfungsinya fasilitas sanitasi (WC dan air bersih). Bila yang dimaksudkan adalah alat bantu untuk pendidikan sebagaimana yang dikatakan Anas, untuk tingkat sekolah dasar pada umumnya semua sekolah sudah pernah mendapatkan kiriman Kit/Alat Peraga. Memang ditemukan ada beberapa sekolah yang belum memiliki alat peraga atau kit. Yang saya sayangkan adalah ketersediaan alat peraga di sekolah tidak menjamin meningkatnya kualitas pembelajaran, karena di sebagian besar sekolah/madrasah telah ditemukan alat peraga tersebut disimpan di kantor kepala sekolah atau ruang guru, masih dalam keadaan terbungkus plastik yang artinya adalah belum pernah digunakan. Seolah keberadaan alat peraga secara lengkap di setiap sekolah hanya diperlukan untuk keperluan akreditasi sekolah. Hanya untuk bisa menyatakan bahwa sekolah memiliki alat peraga secara lengkap. Sebagian guru menyatakan alasan mereka tidak menggunakan alat peraga itu adalah karena mereka tidak tahu cara menggunakannya. Bagi saya adalah aneh bila Dinas Pendidikan mengeluarkan kebijakan untuk memberikan alat peraga kepada sekolah tanpa memberikan pembekalan mengenai cara penggunaannya. Aneh tetapi ini memang nyata adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIP CEPA melalui pemberian Dana Hibah untuk sekolah binaan mengharuskan setiap sekolah mengalokasikan sebagian dana untuk peningkatan kualitas pembelajaran selain untuk membangun atau merehabilitasi sarana fisik sekolah. Dana tersebut diarahkan untuk penyediaan alat dan bahan untuk membuat alat peraga, bukan untuk membeli alat peraga atau kit. Pada dasarnya untuk hampir seluruh topik pengajaran, guru memerlukan alat peraga. Karena itu dengan tersedianya bahan dan alat yang memadai, setiap guru bisa menciptakan sendiri alat bantu yang sesuai dan diperlukan untuk masing-masing topik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini unit cost Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk setiap siswa cukup besar, bahkan sangat besar dibandingkan dengan sebelumnya. Semoga Kepala Sekolah dengan pengendalian dari guru dan Komite Sekolah dapat mengalokasikan sebagian dana BOS untuk penyediaan alat dan bahan untuk membuat alat peraga dan atau alat pendidikan lainnya (komputer, mikroskop untuk pendidikan menengah, dll). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas pendidikan tidak dapat ditingkatkan hanya dengan dibicarakan sebagai suatu wacana. Diperlukan kesungguhan dan komitmen untuk mewujudkannya. Dalam hal ini pembuat kebijakan di tingkat propinsi dan kabupaten, memegang peranan yang sangat penting. Di tingkat sekolah, revitalisasi Komite Sekolah yang dilakukan AIP CEPA bekerjasama dengan Majelis Pendidikan Daerah diharapkan bisa mengaktifkan peran lembaga ini sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;advisor, controller, supporter dan mediator&lt;/span&gt; bagi sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-7554916946025212145?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/7554916946025212145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=7554916946025212145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7554916946025212145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7554916946025212145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/03/isyu-pendidikan-di-nad.html' title='Isyu pendidikan di NAD'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-7621367067070619333</id><published>2009-03-17T08:21:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T09:08:07.549-07:00</updated><title type='text'>Siapkah kita untuk memberdayakan SDM?</title><content type='html'>Konsep pemberdayaan yang merupakan terjemahan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;empowering&lt;/span&gt;, seringkali diucapkan dan digunakan dalam kaitan dengan pembangunan sumber daya manusia. Konsep pemberdayaan didasari kepercayaan bahwa pada dasarnya manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Konsep pemberdayaan berkaitan dengan usaha untuk menjamin keberlangjutan program pembangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal mendasar sebagaimana yang dikemukakan pada awal tulisan ini, untuk dapat memberdayakan SDM kita perlu memiliki kepercayaan tentang potensi yang ada pada SDM kita. Hal yang mudah diucapkan tetapi tidak sesederhana itu dalam pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin berbagi pengalaman dalam mencoba memberdayakan SDM lokal. Pada awal program CEPA, hampir semua pelatihan untuk staf dan masyarakat dilaksanakan oleh pelatih nasional atau dari propinsi. Mungkin saja pelatihan berjalan lancar dan mencapai target. Tujuan pelatihan yang biasanya berupa peningkatan pemahaman dan keterampilan, mungkin saja tercapai. Satu hal yang pasti, bila program dijalankan dengan pendekatan semacam ini maka dapat dipastikan bahwa pada akhir program pemerintah daerah tidak memiliki kapasitas untuk melanjutkan program. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase 2 CEPA, pendekatan dalam membangun kapasitas masyarakat dilakukan dengan cara berbeda. Pelatihan tidak secara langsung ditujukan pada masyarakat, melainkan lebih dulu diarahkan pada pengembangan kapasitas pemerintah daerah dalam melaksanakan pelatihan bagi masyarakat dan tenaga kependidikan. ToT dilaksanakan untuk membangun suatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pool&lt;/span&gt; pelatih. Tentu saja pelatih yang dihasilkan dari suatu ToT tidak akan secara langsung mampu melaksanakan pelatihan sebaik pelatih nasional atau pelatih propinsi yang sudah lebih berpengalaman. Bagaimanapun seorang calon pelatih memerlukan pengalaman, karenanya pada tahap pertama CEPA menggabungkan pelatih pemula dengan pelatih propinsi agar pelatih lokal dapat belajar secara praktis pengalaman dalam melaksanakan pelatihan. Setelah 2-3 bulan berjalan, pelatih lokal/kabupaten sudah mampu menunjukkan kemampuannya dalam melatih masyarakat sekolah dan masyarakat pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya apa yang digambarkan di atas hanyalah hal yang sederhana dan semua orang bisa melakukan itu. Kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Dibutuhkan kepercayaan akan kemampuan pelatih lokal untuk bisa mewujudkan itu. Juga dibutuhkan pendampingan dan reviu secara berkelanjutan agar bisa meningkatkan kemampuan dan pengalaman pelatih lokal. Membiasakan tim pelatih lokal untuk melakukan refleksi dan evaluasi dalam setiap pelatihan, merupakan hal yang penting. Banyak penyelenggara pelatihan yang merasa puas dengan pelatihan yang mereka laksanakan tanpa merasa perlu mengetahui bagaimana penilaian dan penerimaan peserta terhadap pelatihan yang mereka terima. Pendampingan dari manajer pelatihan diperlukan untuk menjamin bahwa pelatihan tetap berada di jalur yang tepat, dilaksanakan secara tepat untuk membangun kapasitas yang relevan dengan tujuan program. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup kabupaten dan kecamatan, Dinas Pendidikan telah membangun kemampuan pelatih kabupaten dan tutor untuk memandu kegiatan di tingkat kecamatan dan gugus. Tapi dalam kenyataannya para tutor yang sudah dilatih oleh pelatih kabupaten masih belum memiliki kemampuan yang memadai. Salah satu yang teramati adalah para tutor ini kurang diberi kesempatan untuk melakukan tugasnya. Dalam satu gugus atau bahkan di satu kecamatan (UPTD/Unit Pelaksana Teknis Daerah) misalnya, hanya  satu atau dua tutor yang dipercaya untuk menjadi instruktur atau pemandu dalam kegiatan KKG (Kelompok Kerja Guru). Akibatnya banyak tutor lainnya yang juga sudah dilatih oleh Dinas Pendidikan, menjadi kurang pengalaman dan canderung kurang memiliki kepercayaan akan kemampuannya sendiri. Inilah yang saya maksid dengan kesiapan untuk memberdayaan SDM. Untuk dapat memberdayakan SDM lokal, kita perlu percaya bahwa mereka mampu. Tentu saja pendampingan tetap perlu dilakukan dan dalam hal ini pengawas sekolah/madrasah harus melaksanakan perannya sebagai pembina di tingkat kecamatan dan gugus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sifat manusia kadang merasa bahwa dirinya mampu, menilai dirinya lebih mampu dari orang lain, bahkan menempatkan dirinya sebagai yang paling mampu. Tetapi kita tak akan pernah bisa memberdayakan SDM bila kita memiliki pandangan semacam ini. Hanya dengan kepercayaan akan kemampuan SDM lokal, dibarengi dengan kemauan dan kesungguhan untuk memberikan pendampingan, kita akan mampu memberdayakan SDM lokal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-7621367067070619333?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/7621367067070619333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=7621367067070619333' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7621367067070619333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7621367067070619333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/03/siapkah-kita-untuk-memberdayakan-sdm.html' title='Siapkah kita untuk memberdayakan SDM?'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-351079970901298948</id><published>2009-03-16T09:26:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T09:38:53.219-07:00</updated><title type='text'>Buah dari Komunikasi yang Baik</title><content type='html'>Menjelang Pemilu masih ada satu pelatihan penting bagi Panitia Pengembangan Sekolah sebelum Dana Hibah untuk sekolah diturunkan. Pelatihan Pengelolaan Dana Hibah akan dilaksanakan untuk 3 (tiga) gugus sekolah di Kabupaten Aceh Utara. Ketika kami sudah siap untuk turun ke lapangan, tiba-tiba ada pemberitahuan dari Polres Bireuen bahwa mulai besok (17 Maret 2009) tidak diijinkan melakukan kegiatan yang melibatkan orang banyak, termasuk pelatihan atau pertemuan apapun. Tentu saja kami kaget. Kalau pelatihan harus diundurkan sampai setelah selesai Pemilu (tanggal 9 April) maka otomatis seluruh kegiatan lainnya harus juga diundurkan. Padahal batas waktu untuk program CEPA sudah semakin dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami langsung kontak dengan seluruh Koordinator Gugus dan meminta mereka melakukan konfirmasi ke Polsek di masing-masing kecamatan, apakah kami masih diijinkan melakukan pelatihan untuk masyarakat sejak tanggal 17 Maret sampai dengan tanggal 27 Maret (4 gelombang). Alhamdulillah, informasi dari ketiga gugus di Baktiya, Muara Batu dan Paya Bakong menyatakan bahwa Polsek mengijinkan kami tetap melakukan pelatihan untuk masyarakat. Menurut Polsek, mereka percaya pelatihan ini penting dan mereka senang karena selama ini CEPA selalu memberitahukan seluruh kegiatan pelatihan kepada Polsek. Alhamdulillah, inilah buah dari komunikasi yang selama ini telah dijalin dengan baik. Terima kasih tim gugus. Terima kasih Polsek dan jajaran Muspika lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kegiatan di Bireuen, kami hanya dapat melakukan pelatihan internal untuk staf. Pelatihan yang melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya terpaksa diundurkan ke pertengahan April. Pelatihan untuk staf akan dilaksanakan di kantor secara bertahap. Mudah-mudahan pengunduran kegiatan pelatihan untuk stakeholder tidak terlalu berdampak pada bergesernya work plan kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-351079970901298948?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/351079970901298948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=351079970901298948' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/351079970901298948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/351079970901298948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/03/buah-dari-komunikasi-yang-baik.html' title='Buah dari Komunikasi yang Baik'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-4385029639546902928</id><published>2009-03-15T08:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T01:34:35.190-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='role model'/><title type='text'>Apa yang menarik dari Chloe Oliver</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Sb4Nob-w5qI/AAAAAAAAAG4/bDbzs6GdB40/s1600-h/chloe.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Sb4Nob-w5qI/AAAAAAAAAG4/bDbzs6GdB40/s200/chloe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313699598700701346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Chloe Oliver, perempuan muda berasal dari Australia, sudah sejak Februari 2007 menjadi Team Leader untuk program CEPA. Ketika itu saya sendiri masih menjadi Program Manager untuk program Revitalisasi Gugus di bawah ERA - AusAID untuk 5 kabupaten di NAD. Sempat ia datang ke rumah yang sekaligus menjadi kantor saya di Pidie. Chloe datang untuk juga bertemu dengan John Bladen yang kalau tak salah adalah juga sahabat orangtuanya. Kami sempat berbincang tentang pendidikan di NAD sambil makan siang masakan sendiri. Saat itu saya melihat dia dengan mudah menikmati makanan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya bergabung dengan CEPA di bulan November 2007, saya melihat Chloe adalah seorang manajer yang merakyat. Tak ada dia minta diberi keistimewaan. Ruang kerja para manajer diset sedemikian rupa agar tidak eksklusif. Ruang kerja kami terbuka sehingga siapapun bisa dengan mudah berkomunikasi dengan kami sekaligus kami dapat mengawasi kerja seluruh staf. Untuk hadir di kantor Chloe tak pernah dia minta dijemput kendaraan kantor. Kadang dia datang dengan menggunakan sepeda, selanjutnya dia datang dengan motor yang disewanya sendiri. Berbeda dengan tipikal manajer di negara kita yang manja dan meminta fasilitas walaupun kinerjanya belum dia buktikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keunggulan Chloe adalah kemampuannya menjalin hubungan dengan tokoh penting di NAD. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di NAD, KPA sebagai organisasi wadah para petinggi dan mantan GAM, adalah organisasi yang kuat dan memiliki otoritas serta pengaruh yang besar di masyarakat. Hampir semua organisasi donor sudah merasakan bahwa program apapun yang diterapkan di NAD, akan diminta untuk memberikan kontribusi melalui apa yang mereka sebut dengan Pajak Nangroe. Chloe dengan kemampuannya melakukan lobi dan advokasi, mampu menjadikan CEPA sebagai satu-satunya program yang berani menyatakan Zero Tolerance terhadap Pajak Nangroe. Memang ini bukan hal mudah. Dalam perjalanan program masih ada oknum KPA yang mencoba dengan berbagai cara meminta bagian atau menghambat jalannya program. Tapi dengan tegas Chloe memimpin tim untuk tetap menyatakan "tidak" terhadap segala usaha tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chloe juga menjalin hubungan yang sangat baik dengan Bupati Bireuen. Pak Bupati yang memang pernah tinggal dan sekolah di Australia, seperti juga banyak orang Aceh lainnya, memang melihat dan memposisikan Australia sebagai sahabat mereka. Itu sebabnya pak Bupati selalu menyempatkan hadir dalam kegiatan penting CEPA, seperti peletakkan batu pertama pembangunan gedung sekolah. Terakhir, Bupati juga hadir dalam perpisahan dengan Chloe Oliver dan bahkan bersedia membantu Chloe dalam menerjemahkan kata-kata yang sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Sungguh hal semacam itu tak akan dapat diperoleh bila Chloe tidak memiliki kemampuan menjalin komunikasi yang berkualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chloe mungkin masih muda, tetapi dia terbukti mampu memimpin tim yang cukup besar. Chloe juga bisa menerima masukan dari tim bila ada hal yang kurang tepat. Satu saat walaupun Chloe sangat ingin komposisi stafnya berimbang menurut gender, dia bisa menerima masukan bahwa syarat kemampuan minimal staf harus dipenuhi untuk menjamin program dapat berjalan secara efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan setelah saya bekerja dengan CEPA Chloe melakukan evaluasi performa. Chloe sangat menghargai keberadaan saya di tim dan menilai bahwa kontribusi saya untuk tim sangat besar. Chloe melihat kehadiran saya bukan hanya dalam posisi sebagai manajer bidang pelatihan dan pendidikan, tetapi juga sebagai seorang ibu bagi stafnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chloe sangat cergas. Dia ingin setiap masalah cepat diselesaikan, tanpa ditunda-tunda. Kadang kami merasa sesak nafas karena banyak kegiatan harus dilakukan dengan segera. Tapi itulah tuntutan program, kami harus merujuk pada work plan yang ketat. Saat ini program berada pada tahap akhir. Hampir seluruh pelatihan untuk masyarakat sudah dilaksanakan. Tinggal enam bulan waktu tersisa. Seluruh tenaga dan pikiran harus dicurahkan. Tapi seperti kata Chloe sendiri, kegiatan CEPA sudah on the track. Kami tinggal menyelesaikan program. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam pimpinan Chloe sudah cukup banyak produk yang dihasilkan CEPA. Selain gedung sekolah yang secara nyata terbangun di gugus binaan, produk yang akan membawa perubahan secara berkelanjutan sudah dihasilkan. Mengembalikan posisi Majelis Pendidikan Daerah sebagai mitra pemerintah daerah dalam pembangunan bidang pendidikan, adalah salah satunya. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi aktif masyarakat untuk menjamin peningkatan pelayanan pendidikan, sudah mulai terlihat meningkat di daerah binaan. Komitmen dan rasa memiliki pemerintah daeah terhadap program CEPA, semoga dapat dilanjutkan setelah program ini berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thank you Chloe! Good luck and success!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-4385029639546902928?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/4385029639546902928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=4385029639546902928' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4385029639546902928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4385029639546902928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/03/apa-yang-menarik-dari-chloe-oliver.html' title='Apa yang menarik dari Chloe Oliver'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Sb4Nob-w5qI/AAAAAAAAAG4/bDbzs6GdB40/s72-c/chloe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-8432011804966869001</id><published>2009-03-15T08:27:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T03:28:54.827-07:00</updated><title type='text'>Surat untuk Chloe Oliver dan Irfani Darma</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Sb4THU-Ad8I/AAAAAAAAAHA/7HYpbDwU3Cg/s1600-h/DSC_0261.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Sb4THU-Ad8I/AAAAAAAAAHA/7HYpbDwU3Cg/s200/DSC_0261.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313705626952562626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Perpisahan dengan Chloe Olliver - Team Leader CEPA lama dan penerimaan pak Irfani Darma - Team Leader CEPA yang baru)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Chloe yang kami cintai, &lt;br /&gt;Ketika kami mendengar bahwa Ibu akan mengakhiri kerja di CEPA &lt;br /&gt;Dan berniat untuk kembali ke Australia….  Rasanya kami tak dapat berkata apa-apa. &lt;br /&gt;Memang tak akan ada kata yang tepat untuk diucapkan, walau kami tak ingin kehilangan ibu. Ibu sudah cukup lama bersama kami, menjalani saat-saat sulit di awal program. &lt;br /&gt;Sudah diterima dengan sangat baik oleh semua kalangan di kabupaten dan daerah binaan. Senantiasa berdiri bersama kami ketika menghadapi kesulitan dan tantangan dalam perjalanan program. Tapi kami juga sadar sepenuhnya … Ibu Chloe juga memiliki hak untuk meraih hal lain yang mungkin sudah direncanakan. Kami dengar salah satu alasan ibu adalah karena ibu Chloe sangat merindukan berada kembali di tengah keluarga dan teman, setelah 2 tahun berada jauh dari mereka….. kami dapat merasakan itu Ibu! Dan kami dapat memahami…, walau sebenarnya kami tak ingin ibu pergi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear ibu Chloe, &lt;br /&gt;Selama 2 tahun ibu membimbing dan menemani kami &lt;br /&gt;Mengerjakan pekerjaan yang selalu saya sebut sebagai “mulia… tetapi seperti mission impossible”. Mulia.... tetapi sungguh tak mudah untuk dicapai  dan berhasil dengan baik. Tetapi dengan ketekunan, kesabaran, dan ketegasan; dengan selalu membangkitkan semangat dan menerapkan disiplin; dengan kepercayaan akan kemampuan kami untuk mencapai keberhasilan; dengan senantiasa menjalin hubungan kepercayaan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya; Ibu telah membuat kami berusaha melakukan yang terbaik bagi masyarakat pendidikan di Aceh ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Chloe, &lt;br /&gt;Sebagai manusia, tentu kami tak luput dari kekurangan dan kesalahan. &lt;br /&gt;Mungkin… tak jarang kami membuat Ibu kesal atau kecewa. Ini saatnya kami meminta maaf.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal manis yang akan kami kenang tentang ibu. &lt;br /&gt;Kegemaran ibu akan durian, dan kegembiraan yang kita alami saat makan durian bersama seluruh staf, tidak akan kami lupakan. Kata-kata yang biasa ibu ucapkan untuk menghargai kami, “fantastic!  Excellent! Champion!” , bukan hanya akan selalu terngiang di telinga kami, tetapi juga akan selalu menjadi pemacu semangat dan kepercayaan diri kami. Ibu juga telah mengingatkan kami tentang pentingnya memelihara lingkungan. Matikan AC dan listrik kalau tidak diperlukan, gunakan kertas bekas dan kayu bekas, dll. Ketika banyak staf kami masih manja dengan memilih kendaraan yang akan kami pakai, Ibu bahkan tak enggan menggunakan sepeda untuk menghadiri rapat di kantor bupati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, masih banyak yang perlu kami pelajari dari Ibu. Tapi, bagaimanapun Ibu sudah memilih untuk kembali ke Australia. Selamat jalan Ibu Chloe &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for all that you did, &lt;br /&gt;And the way that you did it&lt;br /&gt;Thanks for being our team leader and friend, &lt;br /&gt;Encouraging our efforts &lt;br /&gt;As you made us do our best. &lt;br /&gt;We will miss you &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ibu selalu mendapatkan yang terbaik, dan berada dalam lindunganNya. Wish you find your soul mate immediately and live happily ever after. &lt;br /&gt;Wish you all the best, God bless you! And thank you!!!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pak Irfani, Team Leader kami yang baru…. &lt;br /&gt;Selamat datang….. semoga Bapak dapat memahami kami semua. Kami yakin bapak bisa menjadi bagian dari keluarga CEPA, seperti juga ibu Chloe dan seluruh stakeholder melihat CEPA sebagai satu keluarga, yang bercita-cita melakukan perubahan dalam dunia pendidikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita dapat bekerjasama dengan baik …. Insya Allah ….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;\&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-8432011804966869001?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/8432011804966869001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=8432011804966869001' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8432011804966869001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8432011804966869001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2009/03/surat-untuk-chloe-dan-pak-irfani.html' title='Surat untuk Chloe Oliver dan Irfani Darma'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/Sb4THU-Ad8I/AAAAAAAAAHA/7HYpbDwU3Cg/s72-c/DSC_0261.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-2950376689106466356</id><published>2008-11-15T06:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T08:26:00.683-08:00</updated><title type='text'>Perempuan Aceh apa kabar?</title><content type='html'>Dalam kegiatan pembekalan dengan fasilitator desa dalam program kami (CEPA), terjadi diskusi menarik mengenai pelibatan perempuan dalam pembuatan keputusan. Ya, bicara tentang pelibatan perempuan dalam kegiatan apapun memang selalu menarik perhatian dan bahkan cenderung memunculkan kontoversi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang lebih suka menggunakan istilah "pelibatan perempuan" dibandingkan dengan memunculkan istilah "gender", karena ada kesan dimana penggunaan istilah gender diartikan sebagai segala macam usaha perempuan untuk bisa disamakan dengan laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum hampir seluruh peserta (31 orang) yang terdiri dari 8 perempuan dan 23 laki-laki; memahami dan menyadari pentingnya perempuan dilibatkan secara aktif dalam pembuatan keputusan. Walaupun tidak menggunakan istilah akademis, mereka mengerti bahwa perempuan memiliki kebutuhan praktis dan strategis yang berbeda dengan laki-laki dan karenanya perlu dilibatkan dalam pembuatan keputusan, baik di lingkungan rumah tangga (domestik) maupun di lingkungan pekerjaan atau kemasyarakatan. Mereka juga paham bahwa perempuan dan laki-laki diberi potensi yang sama oleh sang Maha Pencipta. Bahwa tidak ada sifat laki-laki dan perempuan, yang ada adalah sifat maskulin dan feminin; yang keduanya bisa dan bahkan perlu dimiliki oleh baik perempuan maupun laki-laki secara seimbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal menarik yang dimunculkan oleh para peserta pertemuan. Seorang peserta menyebutkan bahwa nilai sosial budaya masyarakat Aceh sebenarnya sangat menghormati dan menghargai perempuan. Masyarakat Aceh paham dan sadar benar bagaimana Wanita Aceh pendahulu mereka sangat luar biasa. Laksamana Malahayati yang gagah dan sanggup menaklukan lawannya. Tjut Nyak Dhien yang dikenal dengan keberanian dan kepahlawanannya. Tetapi justru karena penghormatan akan kemuliaan perempuan itulah maka dalam kegiatan di masyarakat yang memerlukan tenaga kasar, perempuan tidak secara langsung dilibatkan. Pernyataan ini sungguh menarik, dan tentunya harus diterima oleh kaum perempuan sebagai hal yang snagat positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dinyatakan peserta lainnya, sungguh cukup mengejutkan. Ia menyatakan bahwa belakangan ada kecenderungan dimana perempuan Aceh salah memahami mengenai Kesetaraan Gender. Ada di antara mereka yang menggugat mengenai posisi perempuan sebagai pemimpin, domestifikasi (merumahkan) perempuan, warisan bagi perempuan, dll. Bahkan sepertinya ada  kecenderungan dimana perempuan tidak merasa perlu lagi menghormati imamnya (dalam rumah tangga). Memang ini sungguh mengejutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam mempelajari feminisme, kita perlu berhati-hati. Kita perlu tahu filosofi apa yang digunakan sebagai dasar dalam melihat masalah feminisme itu. Sebagai Muslimah, seorang perempuan Aceh tidak pantas melihat masalah gender dengan menggunakan feminisme radikal, marxisme, dll. Bagaimanapun Agama adalah sistem nilai yang sudah pasti kebenarannya. Mutlak, tidak dapat diganggu gugat. Mungkin saja kita tidak paham (atau belum paham) tentang mengapa Allah menetapkan hak perempuan adalah setengah dari hak laki-laki dalam pembagian warisan. Tapi janganlah itu  diartikan sebagai bentuk ketidak adilan. Mana mungkin Allah SWT yang Maha Adil dapat bertindak tidak adil? Kita mungkin hanya belum mengerti, karena keterbatasan kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang masih banyak pekerjaan rumah untuk memberdayakan perempuan Aceh. Sepertinya, diterapkannya syariah Islam yang mengharuskan kaum Muslimah mengenakan busana yang Islami, belum dapat dilihat (oleh kaum perempuan itu sendiri) sebagai usaha untuk menjaga kehormatan perempuan. Masih banyak perempuan yang melihatnya sebagai keharusan yang membebani. Karena itu masih banyak perempuan yang terus berusaha menampilkan "daya tarik tubuh"nya walaupun mengenakan busana Muslim. Sungguh patut disayangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keberanian perempuan dalam mengemukakan pendapat di hadapan kelompok yang mayoritas laki-laki? Secara umum, masih sangat rendah. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang memberikan kesempatan kepada anak perempuan dalam memberikan pendapat. Belum lagi pengalaman di sekolah dimana secara umum sekolah memang kurang membangun keterampilan dan keberanian dalam menyampaikan pendapat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman menarik terlihat dalam pertemuan kemarin. Pada hari pertama, hanya 2-3 perempuan yang berani mengemukakan pendapat tanpa harus diminta atau dipaksa. Pada hari berikutnya ketika diciptakan suasana yang lebih akrab, dimana lebih ada jaminan bahwa suara dan pikiran mereka tidak akan dicela oleh rekan-rekan mereka yang laki-laki, peserta perempuan lebih berani mengemukakan pendapat.  Yang lebih membanggakan adalah, kualitas pendapat dan masukan mereka sungguh bermakna bagi tim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya perempuan Aceh memerlukan model peran seperti Malahayati atau Cut Nyak Dhien, yang dapat membangkitkan kepercayaan diri mereka. Diperlukan lebih banyak perempuan yang bisa menjadi contoh dan motivasi bagi kaum perempuan lainnya. Perempuan Aceh, bangkit dan berbuatlah untuk anak-anak dan bangsamu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-2950376689106466356?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/2950376689106466356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=2950376689106466356' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2950376689106466356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2950376689106466356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2008/11/perempuan-aceh-apa-kabar.html' title='Perempuan Aceh apa kabar?'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-242757026089561252</id><published>2008-11-15T06:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T06:52:53.531-08:00</updated><title type='text'>Make me proud !</title><content type='html'>Bagi orang tua, tak ada lain yang menjadi impiannya adalah melihat anak-anak mereka tumbuh dengan sehat dan bahagia, dan menjadi manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab. Ya, rasanya tak ada yang lebih penting dari itu. Kemandirian-lah yang membuat kita mampu memegang prinsip, yang akan memberanikan diri kita untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kemandirian yang membuat kita tidak bergantung pada siapapun, yang membuat kita berani membela satu prinsip manakala banyak pihak lain memiliki pandangan berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemandirian, justru akan kukuh terbangun manakala kita dekat dengan yang Maha Kuasa. Hanya dengan menempatkan Allah SWT sebagai yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, yang melihat bahwa hanya Dia-lah yang Maha, maka tidak ada satu manusia pun yang akan membuat hati kita ciut. Tak ada satu pihak pun yang dapat menteror kita, yang akan dapat menyurutkan langkah kita dalam memperjuangkan kebenaran. Tak ada yang dapat mengecilkan kita, walaupun mungkin secara material kita miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanggung jawab, berarti menyadari setiap kata yang diucapkan dan tindak yang dilakukan, dan berani menanggung segala akibatnya. Bertanggung jawab erat berkait dengan peran dan posisi kita masing-masing. Sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai suami, atau sebagai seorang isteri; kita semua memiliki tanggung jawab masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Make me proud, children! Jadilah manusia yang mandiri dan bertanggung jawab. Kalau kalian belum bisa mandiri apalagi bertanggung jawab, maka berarti aku gagal dalam mendidik kalian. Maafkan ......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-242757026089561252?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/242757026089561252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=242757026089561252' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/242757026089561252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/242757026089561252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2008/11/make-me-proud.html' title='Make me proud !'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-4649174728761994757</id><published>2008-09-03T01:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T03:41:06.561-07:00</updated><title type='text'>Kepemimpinan Partisipatif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SL5k_ShmlZI/AAAAAAAAAEY/jhq8YL_htzU/s1600-h/DSCN1718.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SL5k_ShmlZI/AAAAAAAAAEY/jhq8YL_htzU/s200/DSCN1718.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241738054773151122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak manajer, organisasi atau perusahaan yang mengaku menggunakan prinsip Kepemimpinan Partisipatif. Sebenarnya, apa sih kepemimpinan partisipatif itu ? Apa pentingnya menerapkan kepemimpinan partisipatif dalam suatu organisasi ? Apakah ada kondisi prasyarat agar kepemimpinan partisipatif ini dapat diterapkan dalam organisasi kita ? Mengingat sejarah dan pengalaman kita di Indonesia, serta kondisi SDM kita, apakah mungkin kepemimpinan partisipatif diterapkan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitch Mc Crimmon (2007) menulis bahwa menjadi pemimpin yang partisipatif berarti melibatkan anggota tim dalam pembuatan keputusan. Hal ini terutama penting manakala pemikiran kreatif diperlukan untuk memecahkan masalah yang kompleks atau membuat keputusan yang akan berdampak pada anggota tim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba membuat tulisan dengan menggunakan sumber dari Mc Crimon, agar kita bisa lebih memahami dan karenanya mampu menerapkan kepemimpinan partisipatif secara benar dan utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sadar kita ingin membangun kemampuan tim kita. Tetapi ketika kita akan membuat keputusan, apakah kita akan melibatkan anggota tim ataukah kita buat keputusan sendiri dengan alasan untuk menghemat waktu ? Seorang pemimpin yang partisipatif berarti melibatkan tim dalam membuat beberapa keputusan kunci, bukan seluruh keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pertama-tama, mari kita lihat mengapa ada manager yang tidak terlalu partisipatif ? Alasan utama ialah karena mereka berpikir bahwa mereka harus terlihat kuat, tegar, independen dan tegas; agar bisa dilihat sebagai manager yang efektif. Mereka merasa bahwa kalau menerapkan kepemimpinan partisipatif maka mereka terlihat lemah atau tidak tegas. Memang pada organisasi yang anggotanya masih memiliki pandangan "bergaya lama", anggota tim atau pekerja/staf berharap agar manager mereka mampu membuat keputusan dan tidak perlu meminta masukan dari anggotanya. Di pihak lain, beberapa manager memang masih senang dengan perasaan memiliki kontrol dan kekuasaan untuk membuat keputusan. Yang terakhir, keterbatasan waktu kerap mendorong para manager untuk membuat keputusan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kepemimpinan partisipatif tentunya diperkenalkan karena sejumlah keunggulan yang dimilikinya. Mengapa kita perlu mengadopsi gaya kepemimpinan partisipatif? Sekarang ini, begitu banyak staf yang pandai, profesional yang memiliki keterampilan dan kemampuan yang tinggi. Memotivasi para staf yang pandai dan profesional bisa dimulai dengan membuat mereka merasa dihargai. Tidak ada yang lebih sederhana dan baik untuk membuat mereka merasa dihargai selain meminta mereka, secara ikhlas, memberikan saran.  Kita bisa menepuk punggung mereka dan menghargai apa yang sudah mereka lakukan tetapi ini tidak seefektif memotivasi melalui pelibatan mereka dalam pembuatan keputusan. Alasan kedua pada dasarnya merupakan akibat dari yang pertama. Staf yang terlibat dalam pembuatan keputusan akan lebih merasa memiliki terhadap program. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lagi, sebagian besar pekerjaan kita sehar-hari menuntut orang untuk berpikir dan memecahkan masalah. Pekerjaan kita pada dasarnya juga adalah pekerjaan mental (mental work). Bila suatu tim perlu berpikir kreatif untuk memecahkan masalah, meningkatkan produktivitas  atau efektivitas program; maka cara terbaik untuk mencapai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mental work &lt;/span&gt;melalui staf adalah dengan meminta saran mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang menggelitik adalah apakah kita sudah benar-benar menerapkan kepemimpinan partisipatif? Bila kita meminta saran dan masukan dari staf untuk meningkatkan kualitas keputusan yang akan dibuat, tetapi pada akhirnya kita mementahkan segala masukan itu; apakah itu dapat kita sebut sebagai kepemimpinan partisipatif ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, ada hal penting yang harus dimiliki seorang manager untuk bisa menerapkan kepemimpinan partisipatif secara pas. Dia harus memiliki pandangan positif tentang staf. Seorang manager harus menempatkan atau memandang staf sebagai kekayaan/asset yang mampu (capable) memberikan sumbangan pemikiran. Seorang manager juga perlu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;open minded&lt;/span&gt; atau berpikiran terbuka. Hal ini mutlak diperlukan karena kadang atau bukan tidak mungkin, masukan dari staf berdeda atau bahkan bertentangan dengan pemikiran awal para manager. Yang terakhir, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;positive thinking&lt;/span&gt;. Manager yang memiliki pikiran positif tidak akan secara serta merta menduga apalagi menuduh staf yang berpikiran 'berbeda' sebagai penentang. Hanya manager yang berpikiran positif yang akan mampu membaca "kemurnian" ide dan saran staf. Manager yang pikirannya diwarnai dengan segala macam hal negatif tentang staf, akan sulit menerima saran dan masukan dari staf. Pada akhirnya, masukan dari staf tidak dijadikan bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan. Bila ini terjadi, maka pelibatan staf dalam pembuatan keputusan hanya bersifat semu. Bukan yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, saya percaya bahwa kepemimpinan partisipatif hanya bisa dijalankan oleh manager yang telah memiliki kesiapan dan kematangan. Sikap dan pandangan manager&lt;br /&gt;yang belum siap dan matang; yang dicirikan oleh ketidaksiapan menerima masukan yang berbeda, pandangan 'curiga' dan 'tidak percaya' pada kesungguhan dan kemurnian pemikiran staf; justru akan menjadi bumerang bagi organisasi, tim atau perusahaan. Alih-alih merasa dihargai, staf justru akan merasa dipermainkan dan tidak dihargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita menjalankan kepemimpinan partisipatif ? Tentu tidak mudah kita menemukan jawabannya. Apalagi bila kita belum  bisa 'membaca'  dan 'memahami' staf atau anggota tim kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada pembaca yang memiliki pandangan berbeda mengenai apa yang saya tulis ini. Silakan memberikan masukan, saran atau sekedar respon untuk memperkaya wacana ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-4649174728761994757?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/4649174728761994757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=4649174728761994757' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4649174728761994757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4649174728761994757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2008/09/kepemimpinan-partisipatif.html' title='Kepemimpinan Partisipatif'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SL5k_ShmlZI/AAAAAAAAAEY/jhq8YL_htzU/s72-c/DSCN1718.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-8322923936886570489</id><published>2008-07-27T00:05:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T01:00:02.861-07:00</updated><title type='text'>Aceh oh ... Aceh</title><content type='html'>Dalam minggu ini listrik di beberapa kabupaten padam. Di Bireuen, 2 hari 2 malam listik padam total. Di masyarakat berkembang berbagai informasi tentang padamnya listrik ini. Ada yang mendapat info dari sumber yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;katanya &lt;/span&gt;dapat dipercaya bahwa "ada sabotase di Kuala Simpang, tower PLN disana ditumbangkan". Info lain menyebutkan bahwa ada kerusakan di tower PLN di Kuala Simpang, tetapi bukan sabotase. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman menceritakan bahwa pada masa konflik, listrik juga sering padam. Kadang kalau ada sabotase maka listrik bisa padam selama sekitar 3 minggu bahkan bisa sampai 1 bulan. Mendengar cerita tersebut, terang saja saya agak khawatir. Pada masa dimana kita sangat bergantung kepada listrik; bahkan untuk pekerjaan domestik yang sederhana sekalipun; matinya listrik cukup dirasa berat. Saya pun segera membeli &lt;span style="font-style:italic;"&gt;genset&lt;/span&gt; agar pekerjaan di rumah tidak terganggu dengan mastinya listrik. Baru 1 hari genset dipakai, malam harinya listrik PLN menyala lagi. Padahal sebelumnya juga ada kabar bahwa paling tidak listrik akan mati selama 4 (empat) hari. Besoknya, di surat kabar lokal ada pernyataan Direktur PLN yang menyatakan bahwa "Tidak akan ada lagi pemadaman listrik di Aceh". Selain senang mendengar berita itu, ada juga senyum di bibir karena saya sudah terlanjur membeli genset. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pernyataan Direktur PLN yang ditulis di surat kabar, tidak terbukti. Sehari setelah pernyataannya dipublikasikan, listrik padam lagi. Bukan hanya di Bireuen tetapi juga di beberapa kota, termasuk Banda Aceh dan Aceh besar. Hari ini surat kabar Serambi mengangkat berita tentang pernyataan pelanggan listrik. Menurut pelanggan, "Bebas pemadaman omong kosong !". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah listrik juga menerpa ribuan rumah yang telah dibangun BRR. General Manager (GM) PLN Wilayah Aceh menyebutkan ada 80.000 unit yang dibangun BRR belum memiliki listrik. Informasi ini dipertanyakan oleh BRR Aceh - Nias. Menurut juru bicara BR Aceh - Nias, biaya pemasangan listrik untuk seluruh rumah yang dibangun BRR akan ditanggung BRR sedang pelaksanaan di lapangan diserahkan kepada PLN. Anggaran untuk pengadaan listrik yang disediakan BRR ialah sebesar Rp 460 milliar. Masalahnya PLN tidak pernah melaporkan kebutuhan untuk pelaksanaan pemasangan listrik di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh.... malu kita sama anak-anak. Untuk masalah sepenting ini saja tidak ada koordinasi. Apa susahnya menjalin komunikasi dan koordinasi, apalagi untuk kepentingan rakyat banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, ada banyak hal yang membuat saya nyaman dan merasa aman di Aceh. Banyak sistem nilai masyarakat yang sudah tidak lagi ditemukan di tanah Jawa (Priangan khususnya), masih dilaksanakan dengan sangat baik. Kebiasaan dan adat yang digunakan dalam perkawinan misalnya, masih diterapkan dengan cukup ketat. Yang paling saya kagumi adalah kebiasaan masyarakat dalam takdziah. Setiap ada yang meninggal dunia, maka masyarakat akan beramai-ramai bertakdziah. Mereka datang dari tempat yang dekat maupun jauh. Karena di desa-desa umumnya masyarakat tak memiliki kendaraan (mobil) sendiri, maka mereka akan menyewa kendaraan bak terbuka dan menggunakannya untuk bertakdziah. Tidak harus mereka kenal secara pribadi dengan almarhum atau keluarganya. Mereka datang karena percaya itulah yang disunahkan oleh Rasulullah s.a.w. Mereka membayar ongkos secara berpatungan (iuran). Di rumah duka mereka berdoa   (biasanya membaca surat Yasin) dengan dipimpin oleh tengku atau ustadzah yang menyertai mereka. Sungguh mengharukan. Hanya karena mengharap ridlo Allah SWT, mereka ikhlas melakukan perjalanan yang cukup jauh, dengan membayar ongkos mobil walaupun tidak semua dari mereka termasuk golongan yang mampu. Itulah orang Aceh. Bila mereka percaya, sayang dan menghormati kita, apapun akan mereka lakukan untuk memberikan yang terbaik. Semoga semua kebaikan orang-orang yang melakukan takdziah diterima sebagai amal baik dan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Aamiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mulai masuk ke Aceh, saya masuk dengan pikiran yang sangat positif. Ini adalah Aceh, yang masyarakatnya menyebut Aceh sebagai Serambi Mekah. Tentunya orang akan bersikap dan berperilaku Islami. Karena itu saya agak terkejut ketika melihat ada insiden dimana seorang lelaki turun dari motornya dan memaki-maki pemilik kendaraan lain ketika hampir terjadi tabrakan. begitu juga ketika saya membaca berita tentang cukup maraknya kasus korupsi di berbagai kabupaten. Banyak pejabat dipenjarakan karena kasus korupsi. Banyak anggora DPRD dihujat masyarakat karena meminta hak yang berlebihan tanpa peduli keadaan masyarakat yang sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Semakin hari semakin banyak informasi yang saya terima. Seorang Kepala Sekolah bingung ketika menerima bantuan rehabilitasi gedung sekolah. Ketika saya menanyakan apa sebabnya, karena seharusnya ia justru merasa senang, ternyata ia bingung karena belum juga ia terima uangnya, Dinas PK sudah mengingatkan untuk "menyisihkan" dana sebesar 5 % untuk Dinas PK. Bagaimana ini ? Salah seorang stafku dari gugus Jeunib mengatakan, "Itulah bu, orang Aceh ini takabbur. Menyebut Aceh sebagai Serambi Mekah, padahal kelakuan kita seperti ini". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 (dua) kasus yang mungkin bisa menggambarkan bagaimana sifat orang Aceh. Ada 2 (dua) sekolah yang akan diberikan bantuan Dana Hibah untuk meingkatkan kualitas fisik sarana sekolah. Walaupun sekolah itu sudah memiliki jumlah ruang yang cukup, keduanya ngotot meminta dibangunkan 3 ruang kelas berlantai dua. Apa alasan mereka ? Hanya untuk prestise !!! Hanya ingin mendapat predikat "sekolah tingkat". Walaupun sudah dijelaskan berbagai macam pertimbangan, mereka ngotot ingin dibangunkan gedung bertingkat. Temanku yang asli orang Aceh mengatakan, "Inilah orang Aceh!". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, apa yang saya temui dan alami, menunjukkan bahwa Aceh adalah bagian dari Indonesia dan bagian dari bumi kita. Masyarakat di belahan bumi manapun, tidak semuanya suci atau memiliki sifat dan kelakuan yang terpuji. Tetapi juga tentu tidak semuanya buruk. Masih lebih banyak anggota masyarakat yang memiliki sifat, pandangan dan kelakuan yang dapat dipertanggung jawabkan. Harapan kita tentu saja, semoga para pemimpin, para pembuat kebijakan; memiliki kearifan sehingga patut menjadi teladan masyarakat. Untuk Aceh yang sedang memulihkan diri setelah mengalami konflik berkepanjangan, kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpinnya memang menjadi kebutuhan utama yang sangat penting. Satu kata dan perbuatan, adalah pemimpin yang dapat dipercaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-8322923936886570489?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/8322923936886570489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=8322923936886570489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8322923936886570489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8322923936886570489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2008/07/aceh-oh-aceh.html' title='Aceh oh ... Aceh'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-4893991611192003719</id><published>2008-05-11T00:27:00.000-07:00</published><updated>2008-05-11T01:17:39.735-07:00</updated><title type='text'>Kabar dari NAD (2)</title><content type='html'>Hari Minggu ini di koran Serambi sedikitnya ada beberapa berita yang cukup menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, berita tentang ambruknya 3 rumah bantuan BRR di Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Ketiga rumah itu rusak setelah diterpa angin kencang yang melanda kawasan itu. Bagian atap rumah dan beton penyangganya ambruk ke tanah. Padahal menurut pemilik rumah, angin tidak terlalu kencang. "Bagaimana bila sudah musim angin barat, anginnya lebih kencang dari biasanya. Bisa-bisa semua atap rumah disini diterbangkan angin". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi kejadian tersebut Kordinator GeRAK Aceh, AKhiruddin Mahjudin mengatakan bahwa ambruknya atap rumah yang dibangun PT Kebun Buana Abadi itu merupakan bagian dari tindak korupsi. Menurut Akhiruddin banyaknya kasus rumah "Abu Nawas" yang roboh hanya karena diterpa angin, menunjukan lemahnya proses pengadaan barang dan jasa oleh BRR NAD-Nias.  GeRAK mendesak wakil deputi untuk melaporkan kontraktor yang bersangkutan menyebutke penyidik, dan juga mendesak polisi melakukan penyidikan, dengan dan tanpa pengaduan dari BRR atau masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kedua yang menurutku cukup menarik adalah Kunjungan Kerja Kepala Dinas Pendidikan ke Pantai Barat - Selatan NAD. Drs. Mohd Ilyas A Wahab, melakukan kunjungan ke Kabupaten Aceh Barat (Meulaboh) dan Kabupaten Nagan Raya. Kunjungan kerja ini dimaksudkan untuk mengenali permasalahan pendidikan yang dihadapi di masing-masing kabupaten, tentunya agar bisa dicarikan alternatif upaya untuk mengatasinya. Sayangnya informasi yang diberikan oleh Dinas PK Kabupaten tidak dibarengi dengan kelengkapan data yang akurat. Hal ini tentu sangat disayangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya pernah bekerja bersama ERA (bantuan AusAID) membantu Dinas PK membina sejumlah gugus di Aceh Barat (2007) dan juga pernah bersama UNICEF membantu Dinas PK Nagan Raya dalam masa awal pasca Tsunami (2005). Juga pengalaman menemani team Design Mission dari AusAID bertemu dengan sejumlah pejabat Dinas PK dan dinas terkait di Kabupaten Pidie, Bireuen dan Aceh Barat (2007 - 2008). Dari pengalaman bertemu dengan pembuat kebijakan di Dinas PK, terlihat bahwa informasi yang disampaikan tentang permasalahan dan kebutuhan untuk mendukung pembangunan pendidikan cenderung didasarkan pada common sense dan bukan berdasarkan data yang akurat. Di Kabupaten Aceh Barat dan Bireuen misalnya, selalu diperoleh informasi tentang kurangnya pelatihan guru dan kurangnya tenaga guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi saya menyayangkan adanya informasi tentang perlunya pelatihan guru.Hal ini disebabkan karena sebenarnya cukup banyak pelatihan untuk guru, baik di tingkat pendidikan dasar maupun menengah. Tentu saja ketika kita berbicara tentang pelatihan untuk guru, tidak bisa kita berharap seluruh guru akan dapat menerima pelatihan di tingkat kabupaten. Baik di tingkatpendidikan dasar atau menengah, sebenarnya sudah tersedia mekanisme yang dibangun untuk menjamin seluruh guru di setiap unit pendidikan dapat menerima hasil pelatihan. Di tingkat sekolah dasar misalnya, sudah tersedia KKG atau kelompok Kerja Guru. Bila KKG sebagai wahana untuk pemberdayaan guru ini mampu berfungsi secara optimal, maka seluruh guru SD dan Madrasah akan dapat menerima hasil pelatihan. Demikian pula di tingkat SLTP dan SLTA, telah ada MGMP atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. MGMP ini juga diciptakan agar guru yang telah memperoleh pelatihan di tingkat kabupaten, dapat menyebarluaskan atau membagikan hasil pelatihannya ke seluruh guru di sekolah lain. Revitalisasi wadah pemberdayaan guru inilah yang menurut saya perlu dilakukan. Saat ini tampaknya  para guru yang sudah dilatih dan kerap dijadikan sebagai pelatih kabupaten juga belum terwadahi secara baik. Alangkah baiknya bila Dinas K bersama Kantor Departemen Agama membentuk wadah pelatih kabupaten yang akan ditugasi untuk membantu kedua instansi 1ni dalam melakukan pelatihan dan pendampingan bagi para guru di sekolah secara terstruktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi saya melihat informasi mengenai kurangnya tenaga pendidikan. Baik untuk Kabupaten Aceh Barat maupun Bireuen, dari kesempatan saya berkunjung ke sejumlah sekolah di daerah kota dan daerah pedalaman, saya melihat masalah guru bukan pada jumlah melainkan pada distribusinya. Di salah satu SD di Peusangan misalnya, saya menemukan adanya 22 guru di satu sekolah yang hanya memiliki 12 rombongan belajar. Sementara di daerah Jeunieb dan Simpang Mamplam dapat ditemukan sekolah yang hanya memiliki 3 orang guru untuk melayani 6 rombongan belajar. Mengenai hal ini tidak banyak yang bisa saya katakan. Karena bila saja pendataan tentang kondisi guru (jumlah dan kualifikasi serta disribusinya) dilakukan secara serius dan datanya digunakan oleh Dinas PK dalam perencanaan pembangunan pendidikan kabupaten, tentunya tanpa diwarnai oleh KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) maka tidak perlu terjadi distribusi guru yang tidak merata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi pendidikan seperti ini juga menjadi perhatian CEPA. Itulah sebabnya program CEPA ini tidak hanya diarahkan pada pemberdayaan sekolah dan masyarakat, melainkan juga pada peningkatan kepedulian dan komitmen Pemerintah Daerah dalam melakukan perbaikan di tingkat pembuat kebijakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-4893991611192003719?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/4893991611192003719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=4893991611192003719' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4893991611192003719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/4893991611192003719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2008/05/kabar-dari-nad-2.html' title='Kabar dari NAD (2)'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-8383455630185637272</id><published>2008-05-09T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T21:11:40.844-07:00</updated><title type='text'>Masih adakah konflik di Aceh ?</title><content type='html'>Program yang sekarang sedang kutangani adalah program pelibatan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Aceh. Program di bawah Kemitraan Australia - Indonesia ini diberi nama CEPA (COmmunities and Education Program in Aceh). Di antara banyak program bantuan AusAID untuk Aceh, ini adalah salah satu program yang memiliki kekhususan. Dengan kekhususannya program ini hanya diterapkan di kabupaten yang pernah mengalami konflik yang berkepanjangan. Sedikitnya ada 3 kabupaten yang menjadi sasaran program, yaitu Kabupaten Bireuen, Aceh Utara dan Pidie Jaya. Untuk program phase kedua, CEPA akan difokuskan pada 2 kabupaten saja yaitu Bireuen dan Aceh Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini adalah program yang memiliki satu tujuan akhir yaitu meningkatnya peran serta masyarakat dalam membantu meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada 2 tujuan antara. Pertama, membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan terhadap kemampuan diri mereka sendiri; serta membangun kemampuan masyarakat untuk dapat berperan serta secara aktif dalam pembangunan pendidikan. Dan kedua adalah membangun kemampuan pembuat kebijakan dan pelaksana pendidikan dalam memberikan layanan pendidikan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEPA memang berbeda dengan program pembangunan pendidikan yang dilaksanakan oleh donor lainnya. Kekhususan CEPA adalah dalam memadukan aspek pembangunan masyarakat (community development) dengan pendidikan masyarakat (community education) dalam kerangka pembangunan pendidikan (education development). Program ini erat hubungannya dengan amanat pemerintah yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjamin peningkatan kualitas pendidikan. Saat ini walaupun melalui UUSPN dan sejumlah Keputusan Menteri Pendidikan Nasional telah ditegaskan mengenai pentingnya peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam mendukung pembangunan pendidikan, pada kenyataannya masih banyak Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang "ada tetapi tiada". Ada karena hampir setiap kabupaten dan sekolah mengakui adanya kedua lembaga ini. Tiada, karena mayoritas Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah tersebut belum mampu berperan secara nyata dalam membantu pembangunan pendidikan, baik di tingkat sekolah maupun di tingkat kabupaten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa AusAID memfokuskan kegiatan ini di daerah yang pernah mengalami konflik berkepanjangan ? Mengenai hal ini, bahkan banyak orang Aceh yang tidak memahaminya. Pertemuanku dengan sejumlah orang di Banda Aceh mengantarkan mereka pada pertanyaan :"Apa memang masih ada konflik di Aceh? Apakah program ini tidak mengada-ada ?". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu memang tidak mudah dijawab. Orang secara sederhana mengartikan konflik sebagai perang. Bila konflik diartikan sebagai perang, maka jawabnya adalah "tidak ada lagi konflik di Aceh!". Tetapi CEPA diarahkan pada membangun atau membangkitkan kembali kepercayaan, kemampuan dan semangat atau komitmen masyarakat di daerah pasca konflik untuk berpatisipasi aktif dalam membangun pendidikan. Lalu, mengapa harus digunakan pendekatan "resolusi konflik" ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik dalam bentuk perang memang sudah tidak lagi berlangsung. Tapi dampak dari konflik tadi masih terus terasa. Sebagian besar masyarakat masih tidak memiliki kepercayaan kepada pemerintah. Terhadap sekolah misalnya, masyarakat melihat sekolah sebagai "tidak terbuka dan korup". Di sisi lain, satu kelompok masyarakat juga tidak percaya kepada kelompok lainnya. Bahkan pada tingkat individu pun ditemukan adanya saling ketidakpercayaan. Hal ini tentunya dapat menimbulkan konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEPA mencoba mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan seluruh institusi yang berkaitan dengan pembangunan pendidikan, termasuk kepada sekolah, Majelis Pendidikan Daerah (Dewan Pendidikan)dan Komite Sekolah. CEPA memiliki sejumlah prinsip dalam pelaksanaan programnya, yaitu prinsip inklusif, demokratis, partisipatif, transparansi dan akuntabilitas. CEPA menggunakan prinsip-prinsip tadi  dalam perencanaan dan pelaksanaan programnya. Dalam pelaksanaan di lapangan, CEPA juga membelajarkan masyarakat melalui penerapan secara praktis prinsip-prinsip tadi dalam kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun masyarakat yang peduli terhadap pendidikan, CEPA menyediakan Dana Hibah untuk sekolah. Dana Hibah yang dapat digunakan untuk meningkatkan Standar Pelayanan Minimal ini diberikan melalui dan dikelola oleh Panitia Pengembangan Sekolah (PPS). PPS ini dapat dikatakan sebagai Komite Sekolah yang diperluas. Mengapa CEPA tidak menggunakan Komite Sekolah saja ? Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa Komite Sekolah yang telah ada di sekolah, tidak cukup representatif. Asumsi ini berdasar pada kenyataan bahwa pembentukan banyak Komite Sekolah tidak dilakukan secara transparan, partisipatif dan inklusif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPS dibentuk dengan menerapkan seluruh prinsip diatas. Ide pembentukan PPS pada awalnya dipertanyakan oleh pihak kabupaten termasuk oleh MPD. Tetapi argumentasi mengenai keberadaan Komite Sekolah serta tujuan pembentukan PPS pada akhirnya dapat diterima oleh pihak pemerintah daerah. Bahkan Program Steering Committee di Kabupaten Aceh Utara menegaskan bahwa ide CEPA ini sangat baik dan bahkan mungkin perlu diadopsi oleh pemerintah daerah. Di lapangan, terbukti keberadaan PPS cukup berfungsi. Masyarakat yang memang merasa terwakili oleh PPS memiliki kepercayaan terhadap wadah masyarakat ini. Dalam mengelola Dana Hibah, melalui sistem pengelolaan dana yang juga menerapkan prinsip tadi, PPS dan masyarakat sama-sama belajar dan mempraktikan tentang partisipasi aktif, pembuatan keputusan bersama, keterbukaan, dan pertanggung jawaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya usaha untuk membangun masyarakat yang mau terlibat secara aktif dalam pembuatan keputusan, terbuka dan bertanggung jawab, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Justru dalam tahap inilah terlihat betapa konflik itu ada dan akan selalu ada. Konflik kepentingan (conflict of interest) selalu ditemukan dalam pelaksanaan di lapangan. Tetapi sekali lagi, dengan sistem yang dikembangkan dan diperkenalkan oleh CEPA, masyarakat ternyata mampu mengatasi konflik yang ada dengan melibatkan masyarakat secara inklusif dalam pembuatan keputusan yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik yang menurutku paling berat untuk diatasi adalah justru berada pada sisi pemerintah daerah. Ketika masyarakat sudah terbangun kesadaran dan kemampuannya untuk menjaga (fungsi kontrol)agar sekolah dapat menjalankan peran dan fungsinya secara bersih melalui Manajemen Berbasis Sekolah, justru sekolah yang merasa mengalami kendala yang cukup berat. Hal ini dikarenakan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat kabupaten dan kecamatan, belum memiliki semangat apatah lagi menerapkan &lt;em&gt;the clean and good governance. &lt;/em&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini CEPA masih sedang dalam tahap bekerjasama dan bekerja bersama-sama dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas dan komitmen pemerintah daerah untuk mencapai pelayanan pendidikan yang lebih baik. Sambutan Dinas PK, Kantor Departemen Agama, MPD dan institusi lainnya termasuk BAPEDA dan DPRK; merupakan modal yang sangat penting untuk mencapai hal itu. Semoga !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-8383455630185637272?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/8383455630185637272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=8383455630185637272' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8383455630185637272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/8383455630185637272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2008/05/masih-adakah-konflik-di-aceh.html' title='Masih adakah konflik di Aceh ?'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-1627503830327623583</id><published>2008-05-09T10:06:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T11:49:47.845-07:00</updated><title type='text'>Kabar dari NAD</title><content type='html'>Thanks to Telkomsel Flash, sekarang aku bisa akses internet kapanpun aku mau. Malam ini, aku ingin share tentang kejadian di Bireuen - NAD beberapa hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari belakangan ini isu tentang sms dan telepon misterius menjadi topik pembicaraan semua orang. Pesan berbunyi " &lt;em&gt;Jangan mengangkat atau menerima telpon bernomor MERAH atau dengan kode 08666 atau 0666, karena telpon itu bisa menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan di berita, terjadi di Jakarta dan sudah terbukti, sekarang masih diusut oleh Kepolisian. Dugaan sementara adalah kasus PEMBUNUHAN JARAK JAUH MELALUI TELEPON GENGGAM (HP) oleh DUKUN ILMU HITAM. Si penelpon adalah roh gentayangan yang mencari mangsa. Harap dimengerti dan dikirimkan ke teman atau semua saudara. Harap saling membantu". &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai respon muncul dari berbagai pihak. Anak-anak sekolah yang pertama panik. Satu hari setelah isyu beredar, koran Serambi mengulas isyu ini dan mengingatkan masyarakat untuk tidak percaya pada isyu ini yang menjurus kepada syirik. Memang bukan hanya anak-anak yang termakan isyu ini. Di hari ketiga isyu semakin meluas dengan beredarnya kabar bahwa "di Matang (salah satu daerah di Kab Bireuen) sudah ada korban. Seseorang menerima telepon dan sesaat kemudian pipinya seolah terbakar. Korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit di Banda Aceh". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap orang membicarakan masalah ini. Teman-teman yang menggunakan RBT (ojek), becak ataupun kendaraan umum; semua mengaku ditanyai oleh banyak orang. "Kami orang awam, tapi... mungkinkah itu terjadi?". Bahkan banyak orang yang saling berkirim sms dan telpon agar tidak mengaktifkan HP pada pukul 09.00  12.00 hari Jum'at ini. Salah seorang staff di kantor juga menerima telpon dari seseorang yang mengaku ibunya, yang mengatakan "Jangan aktifkan telepon". Si penerima telpon yakin itu bukan ibunya, karena baik nomor HP maupun suaranya menunjukkan itu bukan ibunya. Mungkin seseorang ingin menelpon anaknya tapi karena panik maka terjadi salah sambung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat respon masyarakat sedikitnya dapat dikelompokkan ke dalam ada 2 bagian besar. Pertama, kelompok yang menerima isyu tersebut mentah-mentah. Mereka lalu mengirimkan sms atau bahkan menelpon saudara atau teman, mengingatkan mengenai isyu santet ini. Hal ini yang membuat isyu semakin meluas dan membuat kepanikan. Menurut teman-teman, hal ini dapa dipahami karena selama ini mereka masih trauma dengan adanya bencana Tsunami, gempa yang sering terjadi, serta konflik yang berkepanjangan. Pada umumnya, anak-anak dan orang tua (&lt;em&gt;parents&lt;/em&gt;)termasuk ke dalam kelompok ini. Kedua, kelompok yang mencoba tetap rasional dengan mencari rasinalisasi dari pesan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi sekitar ba'da Jum'at, seorang teman di Kecamatan Simpang Mamplam menerima sms yang menyatakan bahwa "apa yang terjadi adalah pengiriman pesan yang mengandung radiasi sinar ultra merah yang memang membahayakan si penerima". Tentu saja, isyu yang sama "panasnya" ini juga disebarkan si penerima ke teman dan saudaranya. Entahlah, akupun tak paham apa yang sedang terjadi. Yang pasti berita tentang adanya korban dari Matang pun, tak ada yang mengaku melihat langsung. Semua hanya bersandar pada "kabarnya". Dan yang juga sama pastinya, banyak orang berpikir bahwa pesan tentang radiasi sinar ultra merah juga "dirasakan layak untuk disebarluaskan". Dampaknya, ribuan sms bertebaran di antara pengguna HP tentang isyu yang tidak jelas juntrungnya ini. Seseorang di Banda Aceh mengaku, dalam hari pertama ia mengabiskan pulsa sebesar sekitar Rp 10,000 untuk mengirimkan berita tentang isyu tersebut. Dari sisi ini mungkin kita bisa kuat menduga bahwa pesan tentang adanya santet dan penyebaran sinar ultra merah melalui telpon genggam, memang bertujuan untuk kepentingan memperoleh keuntungan materi semata. Bila ini benar adanya, sungguh tidak bertanggung jawab orang yang memunculkan isyu ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita yang juga muncul di koran Serambi adalah penembakan seorang ibu muda di kecamatan Bambi Kabupaten Pidie. Perempuan beranak 4 ini ditembak oleh 2 laki-laki ketika ia sedang menyusui anak bungsunya yang berusia 6 bulan. Polisi sudah mengidentifikasi pelaku dan kuat menduga bahwa kejadian itu dilatarbelakangi oleh soal utang piutang. Perempuan itu ditembak di rumahnya pada pukul 11 siang, ketika suami dan anggota keluarga lainnya juga sedang berada di rumah. Inna lillahi wa inna ilaihi ro'jiun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita lainnya adalah tentang seorang pemuda yang menggorok leher ibu kandungnya. Minggu lalu ada kasus dimana seorang pemuda menggorok leher ayah kandungnya. Kabarnya, pemuda tadi stress. Polisi menyatakan bahwa mereka mengalami stress,  tidak mampu berpikir jernih karena pengaruh narkoba, dan merasa menerima wangsit untuk membunuh orangtua mereka. Apapun itu, kenyataannya memang banyak ditemukan pemuda yang mengalami stress. Jangan pula disangka daerah di NAD ini bebas dari Narkoba. Bahkan di daerah pesisir Kabupaten Bireuen, daerah yang penduduknya memiliki kondisi ekonomi yang tidak terlalu baik, sering terdengar berita adanya penangkapan pengguna dan penyebar shabu-shabu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini salah satu tabloid juga memuat artikel tentang "ucapan yang dikeluarkan oleh Gubernur NAD". Kabarnya pak Gubernur ini memang dikenal dengan kebiasaannya mengeluarkan kata-kata kasar. Dalam kejadian minggu ini, sang Gubernur memaki dua orang wartawan sesaat setelah wawancara dilakukan. Konon sang Gubernur geram karena pemberitaan media yang dinilainya mengada-ada. Pak gubernur bahkan sampai mengeluarkan kata-kata "Babi kau !". Beberapa teman dekat beliau mengatakan "Itu memang sudah karakter dia. Susah untuk mengubahnya". Karakter atau bukan, para wartawan setuju bahwa itu bukan alasan untuk pembenaran. Mereka menuntut agar pak Gubernur melakukan somasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Banda Aceh minggu ini ada berita tentang penembakan seorang Ketua RT oleh 2 orang berkedok. Kabarnya kedua orang tersebut memang sudah mengancam sang Ketua RT untuk memasukkan namanya sebagai calon penerima bantuan dari salah satu donor. Ketua RT menanggapinya dengan mengatakan bahwa hal itu masih dalam proses seleksi. Hasil seleksi belum dikeluarkan oleh donor tapi sang penjahat berkedok sudah tidak sabar dan memutuskan untuk mengeksekusi pak RT. Sungguh tragis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Lhokseumawe ada lagi berita tentang bom rakitan yang dilemparkan 2 lelaki pengendara sepeda motor. Bom yang dilemparkan di daerah pertokoan di tengah malam ini melukai seorang lelaki yang berada di sekitar lokasi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program yang kami laksanakan (membangun patisipasi masyarakat untuk membantu pembangunan pendidikan di sekolah/madrasah) sejak awal Februari mulai diterapkan di Aceh Utara. Staff kami yang bertugas di Kecamatan Paya Bakong melaporkan bahwa di daerah tersebut masih banyak ditemukan bom yang masih aktif, tergeletak di pinggir jalan. Tidak heran bila ada berita tentang korban ledakan bom dari kabupaten ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orang bertanya, mengapa aku mau bekerja di daerah yang bahkan sebagian orang Aceh pun takut mendengarnya. Dulu selama 1,5 tahun aku bekerja di wilayah Kabupaten Pidie. Daerah yang dianggap basis GAM. Sekarang sudah sekitar 6 bulan aku bekerja di wilayah kabupaten Bireuen dan Aceh Utara. Daerah yang juga pernah mengalami konflik yang berkepanjangan. Selama 2 tahun berada di Aceh, aku merasa aman. Walaupun berita tentang penculikan, penembakan, perampokan atau pemboman; masih selalu dapat dibaca di koran-koran lokal, aku tetap merasa aman. Karena secara umum, kondisi memang aman. Hampir seluruh kejadian penculikan, penembakan atau pemboman;dilakukan tidak secara random. Kegiatan masyarakat pun secara umum berlangsung normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang membuatku betah bekerja dengan masyarakat Aceh adalah karena mereka sangat jujur dan terbuka. Jujur dan berani bicara apa adanya. Mungkin terdengar keras bagi masyarakat di Jawa, tetapi menurutku orang Aceh lebih jujur. Mereka tidak biasa dengan euphimisme. Menghaluskan kata yang bisa berdampak pada "melemahkan" arti pesan yang ingin disampaikan. Kritik pada Sang Gubernur adalah salah satu contohnya. Tidak ada satu pun pihak yang mencoba membenarkan apa yang dilakukan sang Gubernur. Masyarakat Aceh pun terbuka pada kritik. Tentu saja ini secara umum. Para birokrat umumnya masih "tegang" bila menerima kritik. Tapi di tingkat bawah, sekolah dan masyarakat misalnya, mereka sangat terbuka terhadap kritik dan masukan konstruktif. Mereka juga memiliki keinginan yang sangat kuat untuk berubah kearah yang lebih baik. &lt;em&gt;They are eager to learn.&lt;/em&gt; Dari pengalaman bertemu dan bekerja bersama masyarakat di sejumlah kecamatan, dapat dibaca kesadaran dan keinginan mereka untuk membangun generasi yang lebih baik. Bahkan KPA pun yang anggotanya adalah mantan kombatan GAM, mendukung penuh program kami ketika mengetahui bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Mereka bahkan bisa menerima bahwa dalam implementasi program kami tidak dikenal adanya Pajak Nangroe. Program kami tidak memberikan toleransi bagi adanya pajak untuk siapapun. Program yang berada di bawah kemitraan Australia - Indonesia ini, saat ini mungkin merupakan satu-satunya program yang memberikan Dana Hibah untuk masyarakat yang tidak menyediakan dana untuk Pajak Nangroe. Dan alhamdulillah, pengurus dan anggota KPA bisa memahami hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan yang bisa kuambil adalah bahwa orang Aceh sangat mengerti tentang pentingnya pembangunan pendidikan. Mereka juga dapat memahami dan menerima alasan tentang kebijakan yang kami ambil, misalnya tentang Zero Tolerance untuk pajak Nangroe. Bahkan prinsip demokrasi, tranparansi dan akuntabilitas yang kami tanamkan melalui program pembangunan masyarakat untuk pendidikan; diterima dengan sangat baik. Siang tadi di SDN 15 Simpang Mamplam, Pak Amir Ketua PPS (Panitia Pengembangan Sekolah) yang berasal dari unsyur masyarakat mengatakan bahwa dengan adanya program CEPA (Communities and Education Program in Aceh), saat ini paling tidak 50 % dari penduduk desa mengetahui dan membantu upaya pembangunan pendidikan di sekolah. "Dulu masyarakat tidak dekat dengan sekolah. Sekarang ini sedikitnya 50 % dari penduduk desa mengetahui dan mendukung apa yang sedang dilakukan di sekolah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa &lt;em&gt;good stories &lt;/em&gt; dari lapangan juga menunjukkan cukup banyak perubahan. Praktik untuk menjalankan demokrasi, transparansi dan akuntabilitas yang diterapkan dalam program CEPA, sudah diadopsi oleh masyarakat di kecamatan binaan. Pola pemilihan PPS sudah diadopsi dalam pemilihan Geuchik (Kepala Desa) di sejumlah desa di kecamatan binaan. Masyarakat sudah mulai menjalankan peran kontrol terhadap manajemen sekolah sejalan dengan pemahaman mereka tentang peran serta masyarakat dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. Di tingkat kabupaten, juga terlihat semangat untuk melakukan perubahan. Majelis Pendidikan Daerah (MPD) atau Dewan Pendidikan sebutannya di propinsi lain, bertekad untuk menjadi institusi yang benar-benar mampu berperan dalam mewarnai kebijakan yang lebih berpihak kepada kebutuhan dan aspirasi masyarakat. DPRK juga telah bertekad untuk lebih berperan dalam mendukung legitimasi dan fungsi peran MPD, bahkan juga dalam menyediakan dana pendamping untuk menjamin keberlanjutan dan penyebarluasan program ke kecamatan lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sudah dicapai, bukanlah hal yang dapat dianggap kecil. Tapi bagaimanapun perjalanan masih panjang dan tekad atau komitmen harus diwujudkan dalam perbuatan. Kami masih berusaha bekerja bersama untuk mewujudkan agar komitmen yang telah ada dapat diwujudkan dalam tindakan yang lebih nyata. Semoga !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-1627503830327623583?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/1627503830327623583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=1627503830327623583' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/1627503830327623583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/1627503830327623583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2008/05/kabar-dari-nad.html' title='Kabar dari NAD'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-5190739573051388547</id><published>2007-10-14T22:17:00.001-07:00</published><updated>2007-10-15T00:08:35.082-07:00</updated><title type='text'>ERA Farewell</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/RxL5pK3Uj4I/AAAAAAAAADk/yOUD70rGHfs/s1600-h/100_7100.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/RxL5pK3Uj4I/AAAAAAAAADk/yOUD70rGHfs/s200/100_7100.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121430211960016770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After 2 years worked for education in Aceh, ERA (Education Rehabilitation in Aceh)was scheduled to be completed on 30 September 2007. Most of counterparts in Aceh Province   have wonderful impressions on ERA. The most significant thing impressed the counterparts were the commitments and approach used by ERA. It is true. ERA had two magnificent women, Mary Fearnley Sander and Karen Guillespie. Those two women, led ERA to become the most appreciated education program in Aceh which focused on empowering the people of Aceh. Personally, I am grateful to have both of them.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I knew Mary from 2002. She worked in UNESCO as a CTA (Chief Technical Advisor) for CLCC program which was conducted in collaboration with UNICEF. At that time, I was a UNICEF Provincial Project Officer (PPO) based in Bandung – West Jaya.  When I was promoted as Assistance Project Officer for Education Section in UNICEF Jakarta, I worked closer with Mary.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I think Mary knows me well. She knew that I had a lot of unpleasant of even terrible experiences when I worked in UNICEF. It was not because of the system of the UN organization. It’s only because of the persons who I worked with. I think we have common vision and perception about work and commitment. Mary had become my best friend. I decided to quit from UNICEF on March 2006. Mary suggested me to join with TAFE Global who will bid for Cluster Program in Aceh. (I did not know that Mary will become the Manager for ERA AusAID). Afterwards TAFE Global hired me for managing the program. After 9 months worked with TAFE Global, Mary told Coffey International Development (Coffey ID) to hire me for managing the expansion of the cluster program until the last of September 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am grateful to know you Mary. And I also admire you. You have tremendous experiences in managing education program in Indonesia. I understand why counterparts in Aceh asked you to lead the ERA for the next round.  Like pak Sofyan said, your commitment to improve education quality in Aceh is enormous and even superior compare to the Acehnese. You are fully committed to improve education quality in Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One thing I admire you is how you believe and appreciate local – national people. I remember when we have a meeting with the Rector of Universitas Negeri Jakarta (UNJ), you said “It’s a pity. Everyone always think that decision makers will listen and trust more to foreign people compare local – national experts. They should more consider on you, because you are the one who knows better about the needs and problems”. Whether you realize or not, that moment has also increased my self esteem and self confident. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My friendship with Mary did not mean that we never fight or disagree. Sometime we have different view or perception about one matter. Again I am grateful because besides she appreciated the different Mary always believes that I do not have particular interest in discussing or doing anything related with education. Mary believes that I only have untainted interest for education and children.  She always appreciated what I done, even it just a small things. Thank you Mary, it was my contentment and satisfaction working with you. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_OKmV0POokkY/RxL5o63Uj3I/AAAAAAAAADc/XaE7zXYL4r8/s1600-h/100_7093.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_OKmV0POokkY/RxL5o63Uj3I/AAAAAAAAADc/XaE7zXYL4r8/s200/100_7093.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121430207665049458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen Gillespie! She is the warmest and most wonderful person I ever knew! I met Karen for the first time in the end of May 2006. Mary introduced her as Program Coordinator for ERA At that time I was assigned as Project Manager for Cluster Program under TAFE Global – NSW Australia and therefore I did not have a direct command line her. However, Karen always there when I need her. She understood that I stay far away from my children and how hard and difficult it is. Karen said that I can call her anytime when I need someone to talk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When Coffey took over my contract, Karen’s role in providing assistance for me was much superior. I am impressed with her aptitude and capability. Karen always think systematically and comprehensive. Everything is become simple and easy after we talk with her. Karen was not only providing technical assistance. Although Ian (her husband) was not always stay in Aceh, and it means that Karen was also stay alone in Aceh, she bestows passionate and friendly communication. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen and Mary are different. And the combination of the two was the greatest. Mary and Karen filled each other and it was good in creating a conducive and comfortable working environment. I am so glad to know the two of you. I am also proud having work with you.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen planned to go home to Australia and stay with her family. Mary will work in ERA until April 2008.  As Education and Training Manager for CEPA, I will work closely with Mary. Although Karen has gone back to Australia, she promised me that she will not forget me. She will support me from the distance.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are some other wonderful persons in ERA. There are Sofyan Gani, Samsul Bahri, Lilis Ridwan, Afnan, Gatot, Herman, and others. They are wonderful persons. With their unique and different style, they keep me with warm and wonderful working environment. Thank you all for your support for me and the cluster program. God Bless you! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_OKmV0POokkY/RxL5oa3Uj2I/AAAAAAAAADU/9S0HdZ3ypSw/s1600-h/100_7096.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_OKmV0POokkY/RxL5oa3Uj2I/AAAAAAAAADU/9S0HdZ3ypSw/s200/100_7096.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121430199075114850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-5190739573051388547?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/5190739573051388547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=5190739573051388547' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/5190739573051388547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/5190739573051388547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/10/era-farewell.html' title='ERA Farewell'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/RxL5pK3Uj4I/AAAAAAAAADk/yOUD70rGHfs/s72-c/100_7100.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-5286072024168104766</id><published>2007-09-26T14:53:00.000-07:00</published><updated>2008-11-15T06:34:04.994-08:00</updated><title type='text'>Two years in Aceh</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rvrecq3UjzI/AAAAAAAAAC8/8M95P4rJ3no/s1600-h/100_6942.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rvrecq3UjzI/AAAAAAAAAC8/8M95P4rJ3no/s200/100_6942.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114644910956646194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;It has been 16 months since I joined TAFE Global for managing the school cluster program in Pidie. Right after I completed the program 6 months ago, Coffey International Development hired me to manage the expansion of the school cluster program in Aceh Province. The expansion program will be finished at the end of this month. We will hand over all of the program asset to the related counterparts. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Starting from next month I will work on CEPA (Community Education Porgram in Aceh) based in Bireuen under Coffey ID for the next two years. Actually the program has been started last year while I was involved in the school cluster program. I heard that they did not have a training manager. They hired consultants from ERDI and other agencies to delivery trainings. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is the fourth time I work for AusAID. When I worked in UNICEF based in Jakarta, I assigned to manage CLCC implementation at 13 districts in 7 provinces funded by AusAID. It was a pity that I did not have a proper time to visit most of the pilot districts. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is not easy for me to work in Aceh for quite a long term since my family live in Jakarta. Nevertheless I choose to work on the program because I feel that Aceh still need me to provide assistance in developing and improving the quality of education. Aceh people appreciation of what I have done in their schools and community, is the most important for me. It is wonderful to know that our program has change people. School community motivation, knowledge and skills has improved. I remember, on the last training for 36 district facilitators from 5 districts, they expressed:" Please do not worry about the program. Although ERA and AusAID program has finished we will continue the progam implementation. We will ensure that capacity building at cluster level will be sustained". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hope I can fulfill AusAID, Coffey and mostly the community expectation. May the Good Lord bless and keep me as always.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-5286072024168104766?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/5286072024168104766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=5286072024168104766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/5286072024168104766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/5286072024168104766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/09/two-years-more-in-aceh.html' title='Two years in Aceh'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rvrecq3UjzI/AAAAAAAAAC8/8M95P4rJ3no/s72-c/100_6942.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-5595883360123657348</id><published>2007-07-26T08:45:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T18:25:48.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Peran Pengawas Sekolah</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rqqa6wZ1_LI/AAAAAAAAAC0/ZoidhSnhSDk/s1600-h/100_1691.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rqqa6wZ1_LI/AAAAAAAAAC0/ZoidhSnhSDk/s200/100_1691.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092052662912154802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Istilah "peran" kerap diucapkan banyak orang. Sering kita mendengar kata peran dikaitkan dengan posisi atau kedudukan seseorang. Atau "peran" dikaitkan dengan "apa yang dimainkan" oleh seorang aktor dalam suatu drama. Mungkin tak banyak orang tahu, bahwa kata "peran", atau role dalam bahasa Inggrisnya, memang diambil dari dramaturgy atau seni teater. Dalam seni teater seorang aktor diberi peran yang harus dimainkan sesuai dengan plot-nya, dengan alur ceritanya, dengan lakonnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan pekerjaan, maka seseorang yang diberi (atau mendapatkan) sesuatu posisi, juga diharapkan menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan tersebut. Karena itulah ada yang disebut dengan &lt;em&gt;role expectation&lt;/em&gt;. Harapan mengenai peran seseorang dalam posisinya, dapat dibedakan atas harapan dari si pemberi tugas dan harapan dari orang yang menerima manfaat dari pekerjaan/posisi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengawas sekolah misalnya. Pemberi tugas seorang pengawas adalah Dinas Pendidikan sementara yang merupakan penerima manfaat adalah para guru dan kepala sekolah. Dinas Pendidikan mengharapkan (&lt;em&gt;role expectation) &lt;/em&gt;bahwa pengawas sekolah mampu melakukan supervisi terhadap sekolah, dengan tujuan meningkatkan kedisiplinan, komitmen dan kemampuan para guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya masing-masing. Sementara para guru dan kepala sekolah, juga mengharapkan agar pengawas mampu menjadi tempat bertanya, tempat mereka mendapatkan bantuan teknis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat melaksanakan peran masing-masing dengan baik, setiap pemegang peran haruslah memahami benar apa yang menjadi fungsi perannya. Kejelasan tentang peran ini &lt;em&gt;(role clarification)&lt;/em&gt; merupakan kondisi prasyarat untuk tercapainya harapan terhadap sesuatu peran. Ambil contoh, manakala seorang pengawas tidak memiliki pemahaman yang benar tentang perannya, mana mungkin dia bisa menjalankan tugasnya dengan benar. Yang lebih mungkin terjadi adalah kesalahkaprahan. Bukan sekali dua kita mendengar perilaku pengawas yang datang ke sekolah, duduk di ruang kepala sekolah, menulis laporan supervisi di buku supervisi walaupun dia tak pernah masuk ke kelas untuk melihat guru mengajar. Dia juga tentu tak paham apa yang diharapkan Dinas Pendidikan serta para guru dan kepala sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang terpenting adalah kemampuan yang memadai. Peran pengawas itu vital atau sangat penting. Pengawas sekolah lah yang menjadi ujung tombak penjamin mutu pendidikan. Sekalipun para guru telah dilatih mengenai kurikulum baru, atau pun berbagai inovasi dalam pembelajaran, di lapangan mereka akan mengalami kesulitan dan tantangan. Disinilah pentingnya peran pengawas. Pengawaslah yang diharapkan dapat memberikan masukan, saran dan bahkan meningkatkan motivasi dan semangat para guru agar tidak patah arang dalam mencoba menerapkan gagasan,  pengetahuan dan keterampilan mereka di kelas. Sayangnya, sekalipun semua orang bicara tentang pentingnya peran pengawas, dalam kenyataannya rekruitmen pengawas tidak mendapat perhatian yang memadai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman bekerja di sejumlah kabupaten di Aceh ini, cukup banyak teman dari Dinas Pendidikan Kabupaten mengeluhkan sistem rekruitmen pengawas yang mereka pandang tidak memadai. Pengangkatan pengawas, kerap kali bukan didasarkan pada kemampuan atau pengalaman mereka dalam memberikan supervisi. Dalam banyak kasus, seseorang yang dinilai telah terlalu lama menjabat sebagai kepala sekolah,  dipromosi menjadi pengawas sekalipun unjuk kerjanya sebagai kepala sekolah tidak terlalu baik. Jangan heran bila di lapangan kita mendengar begitu banyak keluhan tentang pengawas sekolah yang tidak becus memberikan supervisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan yang dibutuhkan seorang pengawas, haruslah utuh. Kepala sekolah masih memerlukan bimbingan dalam melaksanakan manajemen yang transparan dan akuntabel, dalam menerapkan kepemimpinan partisipatif. Para guru sangat memerlukan bantuan teknis dalam mengelola pembelajaran di kelasnya. Kemampuan lain yang juga penting adalah kemampuan dalam melaksanakan teknis supervisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kemampuan di atas tidak dimiliki pengawas, jangan terkejut bila yang kita temukan adalah pengawas yang "tidak dihargai" oleh para guru dan kepala sekolah. Mungkin ada pengawas yang bangga karena para guru dan kepala sekolah takut dengannya. Sungguh sayang. Karena rasa takut guru terhadap pengawas, sungguh berbeda dengan rasa hormat. Sungguh ironis karena seharusnya pengawas menjadi figur yang dicintai dan selalu diharapkan kehadirannya oleh para guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut diduga bahwa topeng menakutkan yang digunakan pengawas sekolah adalah karena dia sesungguhnya merasa kurang mampu dalam memberikan supervisi. Mungkin juga karena kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya menulis post ini adalah untuk mengubah citra pengawas. Sungguh besar peran yang diharapkan dari seorang pengawas sekolah. Bila memang kemampuan atau penguasaan materi yang menjadi penyebab, maka saatnya Dinas Pendidikan memprioritaskan pengawas sekolah sebagai peserta dalam pelatihan yang berkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran. Pembekalan harus diberikan sebelum tugas diberikan kepada seorang pengawas sekolah. Kemampuan dalam melakukan teknis supervisi tentunya harus menjadi bagian tak terpisahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bekerja para pengawas sekolah ! Jangan hancurkan harapan para guru dan kepala sekolah. Pendidikan berkualitas bagi anak bangsa sangat besar tergantung pada pelaksanaan peran bapak dan ibu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-5595883360123657348?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/5595883360123657348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=5595883360123657348' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/5595883360123657348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/5595883360123657348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/07/peran-pengawas-sekolah.html' title='Peran Pengawas Sekolah'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rqqa6wZ1_LI/AAAAAAAAAC0/ZoidhSnhSDk/s72-c/100_1691.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-982295542442084174</id><published>2007-07-26T03:37:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T05:15:25.444-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><title type='text'>Ke Sabang</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiPxAZ1_GI/AAAAAAAAACM/PM0SC1AySWg/s1600-h/100_6284.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiPxAZ1_GI/AAAAAAAAACM/PM0SC1AySWg/s200/100_6284.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091477450827103330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiPxwZ1_HI/AAAAAAAAACU/RVGBcbjhYtY/s1600-h/100_6331.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiPxwZ1_HI/AAAAAAAAACU/RVGBcbjhYtY/s200/100_6331.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091477463712005234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rqh_ywZ1_FI/AAAAAAAAACE/eaf_7DaXlNA/s1600-h/100_6329.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rqh_ywZ1_FI/AAAAAAAAACE/eaf_7DaXlNA/s200/100_6329.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091459888705829970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jum'at tanggal 6 Juli 2007 pagi, awan mendung menggelayut di langit Banda. Sekitar jam 7 pagi kami diantar Husni menuju Pelabuhan Ulee Lhee. Dari sanalah perjalanan menuju Sabang dengan menggunakan ferry akan dilakukan. Ternyata sesampai di Ulee Lhee, puluhan truk dan mobil penumpang sudah antri untuk dapat diangkut ke Sabang. Kami mengambil keputusan untuk menggunakan kapal cepat. Biarlah Husni membawa mobil dengan menggunakan ferry. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung masih bertahan sampai sekitar jam 9 pagi. Hujan disertai angin yang cukup keras bahkan mulai menerpa. Hamidah sempat menyampaikan kekhawatirannya. Saya hanya berdoa dan berharap semoga cuaca menjadi baik menjelang kapal cepat kami berangkat. Alhamdulillah, Allah memang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Tidak lama setelah kami diundang untuk memasuki kapal cepat, langit pun cerah. Bahkan angin pun seolah mendukung keberangkatan kami ke Sabang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar 30 menit perjalanan, kapal cepat melabuh di Pelabuhan Balohan - Sabang. Dengan bantuan petugas pelabuhan, tidak sulit menemukan mobil angkutan yang bersedia mengantar kami ke Gapang Beach. Sekitar 45 menit perjalanan ditempuh, melewati hutan dimana cukup sering kami bertemu monyet yang turun ke jalan untuk sekedar mendapatkan pisang dari mereka yang lewat di hutan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya melihat lingkungan kawasan resort di Gapang Beach yang terlihat sepi, saya enggan menginap disana. Kupikir, lebih banyak orang pergi ke Ibooh, tentunya disana resortnya lebih baik dan pantainya lebih menarik atau bersih. Ternyata .... pantai di Ibooh memang cantik dan sangat indah. Anak-anak dan cucuku pasti suka. Sayangnya, tidak ada penginapan yang cukup representatif untuk keluarga. Disana memang banyak rumah panggung yang disewakan kepada pengunjung. Tetapi, rumah dengan 1 kamar itu tidak dilengkapi dengan kamar mandi. Aduh ..... bagaimana mungkin. Dengan 1 anak berusia 6 tahun dan 2 bayi berumur 1,5 tahun dan 6 bulan, sungguh tak mungkin menempati rumah tak berfasilitas sanitasi ini. Walhasil, setelah mengeluarkan keringat (karena untuk menuju rumah panggung tadi kita harus mendaki bukit), kami memutuskan untuk pindah ke Gapang Flamboyan Resort.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, pantai di Gapang ternyata juga bersih dan cantik. Kedua cucuku dan Syifa, langsung senang bermain di pantai berpasir putih. Seorang lelaki menawarkan wisata snorkelling ke Pulau Rubiah. Ketiga anakku langsung bersemangat. Syifa langsung berpikir bagaimana beda pengalaman snorkelling di Bali dengan di Sabang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 7 pagi keesokan harinya kami berangkat dengan menggunakan perahu. Sewa perahu hanya sebesar Rp 150 ribu rupiah, sedang peralatan untuk snorkelling disewakan dengan harga Rp 50 ribu per unit. Perjalanan ke Pulau Rubiah sekitar 20 menit. Cucu-cucuku sangat senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tak ada pengunjung terlihat di pantai di Pulau Rubiah. Di tempat dimana kami menambatkan perahu, terdapat satu rumah yang menyediakan minuman dan dapat juga diminta menyediakan makanan sesuai pesanan. Tampak 2 pasang wisatawan dari Perancis beserta anak-anak mereka, dan beberapa perempuan bule yang sedang berbincang dengan orang kita. Rasanya, suasana di pantai ini lebih cocok untuk wisata keluarga dibandingkan dengan pantai di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Snorkelling di Pulau Rubiah ini cukup mengasyikan. Hanya sekitar 30 meter dari pinggir pantai, kita dapat melihat rangkaian terumbu karang yang indah. Terumbu yang berwarna-warni tampak semakin indah dengan banyaknya ragam ikan cantik disana. Waktu satu jam untuk snorkelling atau pun hanya sekedar bermain air seperti yang dilakukan Gilang dan Naufal, tampaknya tidak cukup. Bagaimanapun, kami harus pulang. Sayang Rafie masih terlalu kecil untuk bisa menikmati indahnya pantai dan terumbu karang di pulau Rubiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi, anak-anak dan ketiga cucuku diantar Husni ke Kilometer Nol. Wajib, kata Gita, melihat Tugu Kilometer Nol. Sayang kata mereka, jalan menuju kesana tidak terawat. Demikian pula Tugu yang ada, selain kotor dengan coretan tangan jahil, secara umum lingkungan di sekitar bangunan tugu pun tidak terpelihara dengan baik. Minggu malam angin bertiup sangat kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin kami pindah ke daerah kota dan menginap di salah satu hotel kecil bernama Holiday yang bersuasana China sangat kental. Memang secara umum, nuansa Sabang lebih seperti Little China Town. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa kami pulang dengan menggunakan ferry. Selain karena cuaca memang cukup bagus, pilihan ini diambil agar anak-anak bisa mendapat pengalaman yang lebih kaya. Alhamdulillah, mimpiku untuk mengajak anak-anak ke Sabang untuk menikmati keindahan alamnya, telah terwujud. Walaupun sayang juga Bima dan Maulida tidak sempat ikut ke Sabang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-982295542442084174?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/982295542442084174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=982295542442084174' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/982295542442084174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/982295542442084174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/07/ke-sabang.html' title='Ke Sabang'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiPxAZ1_GI/AAAAAAAAACM/PM0SC1AySWg/s72-c/100_6284.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-2869289392950018047</id><published>2007-07-25T20:57:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T05:37:13.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><title type='text'>Kunjungan anak cucu ke Aceh</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiU1wZ1_II/AAAAAAAAACc/4I5Uu-g0B08/s1600-h/100_6034.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiU1wZ1_II/AAAAAAAAACc/4I5Uu-g0B08/s200/100_6034.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091483029989620866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiU2gZ1_JI/AAAAAAAAACk/-ZYCQ6FeCL0/s1600-h/100_1751.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiU2gZ1_JI/AAAAAAAAACk/-ZYCQ6FeCL0/s200/100_1751.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091483042874522770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiU3AZ1_KI/AAAAAAAAACs/qShR9X2HnTQ/s1600-h/100_1645.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiU3AZ1_KI/AAAAAAAAACs/qShR9X2HnTQ/s200/100_1645.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091483051464457378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Juni adalah masa liburan sekolah setelah kenaikan kelas. Syifa naik ke kelas 4 di SD 2 Tiju - Sigli, sementara Gilang (si cucu pertama) sudah terdaftar sebagai murid kelas 1 di Cileungsi Bogor. Memang waktu berjalan tak terasa. Di awal tahun ini sudah ada tiga cucu laki-laki yang memperkaya dan mewarnai hidup dan kehidupan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan terakhir ke Jakarta bulan lalu, sempat kuajak Gilang untuk berlibur di Aceh. Katanya, "Nggak ah !". Tapi hanya 3 hari kemudian, mamanya Gilang telpon dan bilang, katanya Gilang ingin bicara. Dengan suaranya yang sangat khas, dia berkata "Eni, &lt;em&gt;(itu panggilan untuk nenek dalam bahasa Sunda)&lt;/em&gt; Gilang mau liburan di Aceh" Rasanya tak percaya, cucuku mau berlibur di Aceh. Segera kutelpon Gita dan kutanya apa benar mereka ingin ke Aceh? Ternyata, anak-anak ingin ke Aceh. Kedua anakku, dengan menantu dan calon menantu, beserta 3 cucu yang masih kecil-kecil, akan datang ke Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka datang hari Kamis tanggal 28 Juni 2007. Perjalanan dimana empat orang dewasa harus menjaga satu anak dan 2 infants memang melelahkan pastinya. Sulit percaya, alhirnya anak-anak dan cucuku bisa juga menginjak tanah Aceh. Setelah menginap semalam di Grand Nangroe Hotel di Banda Aceh, mereka semua kubawa ke Pidie. Bukan hanya Gilang dan Naufal yang senang melihat sapi dan kerbau serta gajah dalam perjalanan ke Pidie, tetapi juga paman, bibi dan orangtuanya. Memang pemandangan alam sangat indah kami nikmati dalam perjalanan ke Pidie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dua malam di Pidie, Bima dan Maulida harus segera pulang ke Bandung. Dia harus kembali bekerja. Kedua anakku ini hanya sempat kubawa melihat pantai di Pante Raja dan sungai yang jernih di Tangse. Walaupun hanya kedua tempat ini yang dapat kuperlihatkan pada mereka, sepertinya mereka senang dengan apa yang mereka alami dan lihat. Bagaimanapun, tidak mudah lagi menemukan sungai dengan air yang jernih di Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Bima dan Maulida pulang, kubawa anak-anak ke Meulaboh. Di tengah tugasku mengunjungi sekolah binaan dan bekerjasama dengan Satuan Kerja Program Gugus di Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Jaya, anak dan cucuku bisa melihat sisa kerusakan yang disebabkan Tsunami lebih 2 tahun lalu. Mereka juga bahkan sempat melihat rumah bantuan yang tertimbun pasir akibat pasang besar yang terjadi bulan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai tugas di Meulaboh dan Calang, perjalanan dengan anak-anak kami lanjutkan ke Banda Aceh melalui Lham No. Walaupun sempat ada yang mengkhawatirkan kalau-kalau jalan ke Banda dihalangi penduduk, alhamdulillah kami bisa sampai di Banda dengan selamat. Syukur, karena khususnya Gilang dan Naufal, mereka banyak punya kesempatan melihat indahnya pantai dan lautan dengan ombaknya yang kadang sayup terdengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next, ke Sabang !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-2869289392950018047?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/2869289392950018047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=2869289392950018047' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2869289392950018047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2869289392950018047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/07/kunjungan-anak-cucu-ke-aceh.html' title='Kunjungan anak cucu ke Aceh'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/RqiU1wZ1_II/AAAAAAAAACc/4I5Uu-g0B08/s72-c/100_6034.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-7094932233268497470</id><published>2007-04-30T07:00:00.000-07:00</published><updated>2007-04-30T07:46:11.346-07:00</updated><title type='text'>Dua bulan penuh kesibukan</title><content type='html'>Sejak tulisan yang terakhir, banyak sekali kesibukanku. Maklum, program gugus yang kutangani diperluas ke 4 kabupaten lain di Aceh. Ada rasa bangga karena pemerintah daerah dan juga Australia, percaya bahwa program gugus yang kutangani memang efektif untuk meningkatkan kompetensi guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesibukan melakukan sosialisasi dan survey data dasar ke 4 kabupaten perluasan, ada cerita Hamidah dari lapangan. Suatu hari dalam perjalanan ke kantor dengan menggunakan labi-labi, labi-labi adalah angkutan umum di Aceh, dia mendengar pembicaraan seorang guru (yang ternyata adalah tutor atau guru pemandu dari kecamatan Sakti) dengan seorang temannya. Dia bercerita tentang bagaimana senangnya ia dengan kegiatan KKG (Kelompok Kerja Guru). Dia bilang, dulu sebagai tutor ia tak punya banyak kegiatan. Sekarang ini KKG di seluruh kecamatan Sakti telah berfungsi kembali. Dia punya jadwal untuk membimbing guru-guru di seluruh KKG (lintas gugus). Memang cape, katanya. Tapi, dia senang karena dia bisa memperoleh banyak hal dengan berjalannya kembali KKG. Dia menambahkan, kegiatan KKG ini berjalan lagi setelah ada program ERA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, bukan karena nama ERA disebut yang membuatku bangga. Tapi, kenyataan bahwa tutor dan para guru merasakan manfaat dari program ini, itu yang membuatku bahagia. Nyata, betapapun sederhananya program ini, para guru telah merasakan manfaatnya. Dan mereka senang terlibat dan aktif menjalankan program ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, Pelatihan untuk Pelatih Kabupaten baru saja dilaksanakan. 39 pelatih kabupaten dan 10 anggota satuan kerja kabupaten mengikuti pelatihan di Banda Aceh. Tujuh hari pelatihan memang cukup melelahkan, baik bagi peserta maupun pengelola dan pelatihnya. Alhamdulillah, ibu Eny Wahyuni dan Pak Prie, dua sahabat lama dari Jawa Timur telah datang membantu. Dengan kemasan pelatihan yang PAKEM (aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan), seluruh peserta menyatakan kepuasannya. Ada dua peserta yang atas kehendaknya sendiri, menyampaikan pesan dan kesannya dalam mengikuti pelatihan, melalui lagu yang mereka ciptakan. Keinginan peserta untuk sebanyak-banyaknya memperoleh pengalaman belajar baru, terungkap dalam refleksinya yang antara lain mengatakan "Kalau kami sedang berdiskusi atau bekerja dalam kelompok, janganlah disuruh untuk beristirahat !". Mungkin itu bukan hal yang istimewa. Tapi rasanya bolehlah kita bertanya, apakah dalam pelatihan yang dikelola oleh teman-teman dari Diknas atau LPMP, antusiasme peserta juga seperti itu ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini, di Pidie akan dilaksanakan pelatihan penyegaran untuk fasilitator kabupaten dan nara sumber gugus. Dua teman dari Sulawesi Selatan kami minta datang untuk membantu. Lima fasilitator dari Kabupaten Pidie sendiri akan secara langsung belajar melalui keterlibatannya sebagai co-facilitator. Semoga kegiatan ini bisa berlangsung dengan lancar dan berhasil sebagaimana yang diharapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next week, tim AusAID akan kembali mengunjungi Pidie. Tim ERA juga ingin beraudiensi dengan Bupati. Sementara itu pembekalan untuk Distrcict Coordinator dan Training Coordinator masih perlu dilakukan. Belum lagi pertemuan untuk menyiapkan Satuan Kerja yang akan dilimpahi tugas dan tanggung jawab untuk mengelola program. Well.... like Karen said "One step before the other one". Kalau lihat ketatnya jadwal 6 bulan ke depan, wuih.... sungguh berat rasanya. Insya Allah dengan kesehatan dan kemampuan yang Allah berikan, semua kegiatan akan dapat dilaksanakan dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu ke depan, rencananya mau liburan ke Bali bareng anak-anak. Mudah-mudahan tidak ada halangan apapun. Rasanya tidak sabar lagi menunggu saat break dan mengisinya dengan liburan bersama anak-anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-7094932233268497470?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/7094932233268497470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=7094932233268497470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7094932233268497470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7094932233268497470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/04/dua-bulan-penuh-kesibukan.html' title='Dua bulan penuh kesibukan'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-3198440965460349272</id><published>2007-02-24T07:47:00.000-08:00</published><updated>2007-02-24T20:58:09.511-08:00</updated><title type='text'>AusAID Team Visit : The Second Day</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReEVtys2U2I/AAAAAAAAABo/oMjO7t8qW7U/s1600-h/100_4134.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReEVtys2U2I/AAAAAAAAABo/oMjO7t8qW7U/s200/100_4134.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035329734825104226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReETXCs2U1I/AAAAAAAAABg/Nvv8HvbTTvY/s1600-h/100_4154.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReETXCs2U1I/AAAAAAAAABg/Nvv8HvbTTvY/s200/100_4154.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035327144959824722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;On the second day the AusAID team agenda was visited schools and conducted dialogue with counterparts and stakeholders at sub district and cluster levels. The first school visited by the team was SD 1 Beureuneun at Mutiara Sub District. They could see that teachers in all classrooms implementing active, joyful and effective learning. Besides the classroom arrangement and student works displays, they could see how teachers encourage students to be actively participate in the learning activity. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At 8.45 am we moved to SD 1 Kota Bakti at Sakti Cluster. We will meet with teachers, supervisors, District Facilitators and also the Heads of Sub District Office. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grant Morison was interested on the School Plan and Budget displayed at Public Information Board. He asked a lot of questions related with the spending of the BOS and other block grants provided by the government and ERA as well. Grant used to be a teacher and therefore he is interested with the reading corner and the books provided for the students. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The dialogue with the stakeholders was lively. All representatives from teachers, supervisors, district facilitators and the head of sub district offices; stated their experiences in implementing the cluster program and what is still needed in order to continue and or improve their performance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beside the achievements, they also stated contraints and obstacles in implementing the program. The lack of support from the school heads, the limited capacities in performing their role as district facilitators and or cluster resource persons, and different treatment given to primary schools and madrasahs; were the main issues. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Within the 2 hours dialogue, I believe that the AusAID team has gained a comprehensive information about the program and the further needs. Issue about the differentiation of treatment given to the primary schools and madrasah, is still has to be solved. Hopefully with the existence of Aceh Province Strategic Plan, this issue can be solved promptly. However, it should be considered that teachers and students at schools are the victims of the unequal treatment. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just want to share my opinion about the good leader. I believe that "the good leader is the one who treated every party equally; focused and prioritized his/her mission for the sake of children; and never think and act primordially". It means that he/she should think and act beyond the different ethnic,  geographycal area, or different istitutions. It is true that primary schools and madrasahs are under different department. But, do you ever think that the victims of the unfair treatment are the students ? Students at both schools, named Sekolah Dasar under the Education Office and Madrasah under the Religious Department. Students become the victims just because their teachers treated differently by their leaders. It's a pity indeed.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-3198440965460349272?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/3198440965460349272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=3198440965460349272' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/3198440965460349272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/3198440965460349272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/02/ausaid-team-visit-second-day.html' title='AusAID Team Visit : The Second Day'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReEVtys2U2I/AAAAAAAAABo/oMjO7t8qW7U/s72-c/100_4134.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-6558845833960286610</id><published>2007-02-24T05:53:00.000-08:00</published><updated>2007-02-24T07:47:38.386-08:00</updated><title type='text'>AusAID Team Visit to Pidie</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBZwis2UyI/AAAAAAAAAA8/-oQCOEx_JZw/s1600-h/100_4081.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBZwis2UyI/AAAAAAAAAA8/-oQCOEx_JZw/s320/100_4081.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035123073883722530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yesterday afternoon, a team consisted of Georgina Harley, Grant Morison, Mary Fearnley Sanders and Sofyan Gani arrived in Pidie. Georgina is representative of AusAID in Jakarta who is responsible for Education Program in Aceh. Grant Morison is representative of AIPRD in Canberra - Australia. Mary Fearnley Sanders is Director of Education Rehabilitation in Aceh (ERA) while Sofyan Gani is Advisor for ERA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The team visit to Pidie is to collect information from counterparts and stakeholders about how the ERA program works and how AusAID can supports education development program in Aceh in general. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first meeting was with counterpart at district level. Syamsudin, the Head of Education Office, accompanied by the head of office administration; the Head of Basic Education Sub Office; and representative of the Religious Department; warmly welcomed the team. For about two hours through a lively discussion, the AusAID team received many information about education issues and the support need to be provided by AusAID. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsudin described that Pidie affected by a long conflict and also by Tsunami. There were hundreds of schools burned in 2000 - 2002. Library and books also burned at that time. In that abnormal situation, most of parents couldn't work normally and it affected their income. When Tsunami attacked Aceh, some shools along the coast destroyed. Hundreds of students and teachers died or lost. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsudin explained that the most needed is support in improving the quality of education, particularly in primary school level. He assumed that education at primary school level is the most important, considering that it will colored children competencies and their readiness since the early stage. Quality education at primary level, will eliminate constraints and problems at the higher level of education. The first district strategic plan in education is to improve the quality of education. Pidie has achieved a tremendous achievement in compulsary education. The NER (Net Enrollment Ratio) for promary school is 100 per cent and for junior high school is around 97 %. For this achievement, the Central Government has awarded Pidie.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsudin also mentioned that the cluster program implemented by ERA and supported by AusAID is the most success in Pidie. Based on the evidence of the success, only 4 months after ERA cluster program implemented, Pidie Government provided 17.5 million rupiahs per cluster for all of the 64 clusters in Pidie District. Education office adopted ERA approach and model in revitalise the cluster. In 2007 fiscal year, the legislative has approved and signed budget to support the clusters (Rp 25 million per cluster). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidie has shown its commitment to support the program. Pidie commitment is a reflection of their trust on the program. They believe that this program is relevant with the real and crucial needs. They are also happy because it is implemented with the inclsusion of counterparts and stakeholder through a negotiated structured which is based on the existing structure. This approach will ensure district and sub district preparedness in continuing the program. In other word, it will build local government capacity for program sustainability.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Both of Grant and Georgina were pleased with the lively discussion and frankly explanation provided by the counterparts from Education Office and the Religious Department. They were also happy that the cluster program implemented by ERA is not only relevant but also significant as well in improving school community performance. The results of follow up survey conducted in early February shown that the school performance is improved, which can be seen from the positive changes in teaching learning practice, the more transparent and participative school management, and also from the increasing of community contribution in supporting the schools program.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-6558845833960286610?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/6558845833960286610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=6558845833960286610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/6558845833960286610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/6558845833960286610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/02/ausaid-team-visit-to-pidie.html' title='AusAID Team Visit to Pidie'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBZwis2UyI/AAAAAAAAAA8/-oQCOEx_JZw/s72-c/100_4081.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-7944875060513100701</id><published>2007-02-24T04:09:00.000-08:00</published><updated>2007-02-24T05:45:57.172-08:00</updated><title type='text'>Collaboration with Local Broadcasting</title><content type='html'>Three representatives from Megaphone Radio, a local broadcasting in Pidie, came to the office two days ago. I was impressed with their professionalism. They were pleased with the idea of using local radio in improving community awareness on education and agreed with the proposed alternative forms of broadcasting will be used. Evenmore they also proposed different ideas on it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The manager, Syaiful, is a good man. As a manager, he listened carefully the goal and purpose of the colaboration. Shortly, after a lively discussion, we agreed about the various alternative we will use. At least there are three program will be broadcasted by the radio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First, talk show. At least once a week we will invite people from various institutions to talk about issues in education quality improvement. They can be The Head of Education Office, Representative from Education Board, or even teachers, supervisors, or parents. This program is purposed to build and develop community'  awareness and understanding about issues in education. This is a prerequisite needed to build their commitment to support and willing to contribute in any education program in all levels. For example, through this program, people will gain a comprehensive information about BOS fund (Support for School Operational), the role of school commitee, how to actualize the concept of children right at school and how parent and community can contribute in school efforts, etc. The twelve District Facilitators and 24 Cluster Resource Persons will also become resource persons for this talk show. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second is life broadcasting from the field. Because our program is purposed to revitalise the school cluster system, we will broadcast activities in the cluster and schools. The KKG (Teachers Working Group) meetings, the KKKS (School Principal Working Group) meetings, School Committee meetings and various activities conducted in the clusters will be broadcasted directly from the field. With this approach, information and experiences shared in the KKG and or KKKS meeting will disseminate to other clusters across Pidie District. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The third is Radio Bulletin. Actually this idea was from Marzuki, one of the radio broadcaster. Enthusiaticaly he described that through Radio Bulletin we can share information about activities will be conducted within the on-going week as a  reminder for school and cluster communities; topics will be discussed in the talk show; and also accomodate people curiosity about many things related to the School Based Management, Joyful Learning and or Community Participation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So far, I am happy with our initial meeting. I look forward to seeing their proposal. Hope they have common understanding and committed to actualize the ideas. It is obvious that Radio Broadcasting has a very important role in empowering people. Radio can become a strategic media in creating Community Learning for Children.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-7944875060513100701?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/7944875060513100701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=7944875060513100701' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7944875060513100701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/7944875060513100701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/02/collaboration-with-local-broadcasting.html' title='Collaboration with Local Broadcasting'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-135538661542276796</id><published>2007-02-21T07:05:00.000-08:00</published><updated>2007-02-23T01:18:09.235-08:00</updated><title type='text'>Collaborate with Megaphone Radio Station</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rdxofis2UvI/AAAAAAAAAAY/aaAvguYjbU8/s1600-h/100_1691.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rdxofis2UvI/AAAAAAAAAAY/aaAvguYjbU8/s320/100_1691.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5034013374593520370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;In the previous program, we built teachers' capacity in creating and developing a newsletter. My original idea was to build teachers capacity in creating and developing a very simple Cluster Newsletter, so teachers can share their experiences and ideas to other teachers in the cluster. The newsletter should be developed locally and using applied and appropriate technology. Unfortunately, the communication expert did not have common understanding. The result was, although the cluster people could developed a newsletter, it seem that it is difficult to keep the sustainability. It was too high tech and too expensive as well, while there were a gap between the technology we used and their capacities in using advance technology. Even more, in primary school level, most of the schools do not have computer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the second phase of the program, I suggested ERA to collaborate with radio broadcaster. With this media, I am sure that we can disseminate much more information, experiences and lessons learnt; to a broader audiences. Not only for the school community at the 4 pilot clusters, but also to all people in the district. With this approach, hopefully the concepts, knowledge and expriences related with the revitalisation of the school cluster system, will improve people awareness and commitment to make changes for children education improvement in Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomorrow Zulkarnaen from Megaphone Radio in Pidie will discuss about the feasibility of creating special program for school community. Hope we can achieve common understanding and commitment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krishna&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-135538661542276796?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/135538661542276796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=135538661542276796' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/135538661542276796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/135538661542276796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/02/collaborate-with-megaphone-radio.html' title='Collaborate with Megaphone Radio Station'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/Rdxofis2UvI/AAAAAAAAAAY/aaAvguYjbU8/s72-c/100_1691.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-2370533133298316841</id><published>2007-02-20T09:10:00.000-08:00</published><updated>2007-02-23T01:35:18.921-08:00</updated><title type='text'>Keikhlasan Berbuah Keberhasilan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/RdszPSs2UuI/AAAAAAAAAAM/GsbAsbdNB6w/s1600-h/100_3129.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/RdszPSs2UuI/AAAAAAAAAAM/GsbAsbdNB6w/s200/100_3129.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5033673346327663330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini saya mengunjungi SD 1 Kota Bakti. Salah satu sekolah dasar di Kabupaten Pidie yang merupakan binaan ERA (Education Rehabilitation in Aceh). Program ini didanai oleh AusAID dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah ini terletak di kawasan yang dahulu merupakan daerah konflik. Tidak seperti layaknya sekolah lain, bangunan sekolah ini terletak di dua tapak (site) yang dibatasi oleh sungai kecil selebar sekitar 8 meter. Dulu sekolah ini memiliki 2 bangunan untuk rumah guru dan ruang kelas yang cukup untuk tempat belajar siswa dari 6 kelas. Sayangnya kedua bangunan untuk ruang guru itu sudah hancur total, tak lagi dapat digunakan. Terlihat juga 3 ruang yang rusak sehingga tak dapat digunakan untuk kegiatan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini SD 1 Kota Bakti hanya memiliki 6 ruang yang dapat digunakan untuk belajar dan kegiatan manajemen sekolah. Tiga ruang kelas berada (kelas 1 - 3) di sebelah timur sungai dan tiga ruang kelas lainnya (kelas 4 - 6) berada di sebelah barat sungai. Karena tidak memiliki ruang guru dan ruang kepala sekolah, maka untuk memberi ruang bagi kegiatan kepala sekolah dan para guru, separuh ruang belajar untuk kelas 6 juga digunakan sebagai ruang kepala sekolah dan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika langkah kaki memasuki tapak yang berada di sebelah timur sungai, ada kesedihan dan kegembiraan yang sekaligus terasa di dada. Sedih melihat bangunan yang sungguh tak lagi layak digunakan sebagai tempat belajar anak-anak kita. Perasaan gembira terasa karena di halaman rumput yang hijau dan bersih, terlihat anak-anak sedang melakukan kegiatan olahraga. Mereka bermain kasti dengan ceria. Siswa-siswi kelas 3 ini sedang bermain kasti, karena guru mereka sedang mengikuti kegiatan pelatihan di Sigli. Dua orang guru sedang melaksanakan kegiatan belajar di kelas 1 dan 2. Perasaan sedih dan gembira sekali lagi menyeruak. Sedih melihat ruang kelas yang plafondnya sudah rusak dan warna dindingnya pun tidak lagi putih. Gembira karena terlihat para siswa belajar dengan ceria. Kedua guru yang sedang mengajar mencoba menerapkan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektf dan Menyenangkan). Dengan segala keterbatasn fasilitas yang ada, kedua guru itu tetap mencoba menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat semangat dan tekad para guru yang berusaha melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, saya yakin salah satunya adalah karena keikhlasan dan kepemimpinan Kepala Sekolah. Ibu Nurzaini, penghargaan dan terima kasih kami untuk ibu. Dengan kepemimpinan yang terbuka dan partisipatif, Insya Allah, orangtua siswa dan masyarakat di sekitar sekolah, akan bersama-sama membantu sekolah dalam meningkatkan kualitas layanan bagi anak-anak kita. Semoga kesehatan dan kemampuan senantiasa diberikan kepada ibu dan semua guru di SD 1 Kota Bakti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-2370533133298316841?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/2370533133298316841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=2370533133298316841' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2370533133298316841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/2370533133298316841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/02/keikhlasan-berbuah-keberhasilan-hari.html' title='Keikhlasan Berbuah Keberhasilan'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OKmV0POokkY/RdszPSs2UuI/AAAAAAAAAAM/GsbAsbdNB6w/s72-c/100_3129.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-6250497267263802636</id><published>2007-02-20T08:05:00.000-08:00</published><updated>2007-02-24T08:45:08.160-08:00</updated><title type='text'>My First Visitor</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBrcis2UzI/AAAAAAAAABI/zRWZhxxrz20/s1600-h/prof_harris_zan_0207.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBrcis2UzI/AAAAAAAAABI/zRWZhxxrz20/s320/prof_harris_zan_0207.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035142521495638834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;My first visitor to the new office was Zan Darusman. She came to the office this afternoon with her husband and Prof Minas. I knew Zan from Farida Flemming. Zan used to work with universities in Australia, particularly dealing with issues related with foreign students. Zan helped me in analyzing data from baseline survey, for my program in Pidie.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Minas is a psychiatrist, Head of the International Mental Health, University of Melbourne, Australia. He is in Pidie to help Zan' husband to develop a Community Based Mental Health Program. One of the issues with mental health is to identify them at the beginning/early stage and what better way to start from primary school level. Zan informed him about the worked I have done and issues on trauma with the teachers. They are interested in having dscussion to discuss the potential to involve the teachers in community based mental health in early detection in children.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I always interested in community based program. Particularly for Pidie, where the children affected by Tsunami and or conflict, the Community Based Mental Health is very crucial. The good thing of community based program is that it will empower people who are interact with children in daily activities. It will not only build the capacity of teachers who are interact with them everyday, but also with parents and community. This is very important because children mental health condition is colored by the family life or the neighborhood. The community based program will enable parents and community members to recognize and identify children mental health condition, and to know what to do or wher to go if they need help. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I understand that this program will involve at least two key stakeholders, they are Dinas Kesehatan (Health Office) and Dinas Pendidikan (Education Office)at district level. I am pretty sure that the two stakeholders will support this program and willing to cooperate.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; This program is related with my program, the revitalisation of the school cluster system. In the cluster program, despite of teachers and supervisors, we also build capacity of parents and community so they can provide their best contribution to support children education and health. We have a dream that schools in Pidie can become a center of community education and health. We try to develop school as a healthy and enjoying environment for children. Although our journey is still long, at least we are doing something to reach that dream.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I really hope that the program can be developed and implemented promptly in Pidie. Pidie people are eager to make positive change, and they are committed to support and implement any program as long as they understand that it is relevant with their needs.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Good luck Prof Minas, hope we can work together to improve the children mental health in Pidie !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-6250497267263802636?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/6250497267263802636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=6250497267263802636' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/6250497267263802636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/6250497267263802636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/02/my-first-visitor-my-first-visitor-to.html' title='My First Visitor'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBrcis2UzI/AAAAAAAAABI/zRWZhxxrz20/s72-c/prof_harris_zan_0207.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37863183.post-117180633831793739</id><published>2007-02-18T05:36:00.000-08:00</published><updated>2007-02-24T08:58:26.722-08:00</updated><title type='text'>My New Office</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBuHis2U0I/AAAAAAAAABU/p0dxDDVpm0k/s1600-h/100_4062.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBuHis2U0I/AAAAAAAAABU/p0dxDDVpm0k/s320/100_4062.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035145459253269314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Dear children, I just move to the new office which is my new house as well. The house is quite big. It has 4 bedrooms and 4 bathrooms. I use one of the room as my office.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husni, Hamidah, ibu Sakdiah, Yeni and Muzakir helped in moving all of the stuffs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syifa has her own bedroom. She is very happy with that. Hope she can start to sleep in hers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You can see the new office picture. Hope I can concentrate better in performing my responsibilities. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love&lt;br /&gt;Mum&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37863183-117180633831793739?l=krishna-mumblog-krishna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/feeds/117180633831793739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37863183&amp;postID=117180633831793739' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/117180633831793739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37863183/posts/default/117180633831793739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krishna-mumblog-krishna.blogspot.com/2007/02/my-new-office-dear-children-i-just.html' title='My New Office'/><author><name>krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09249320623789378838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OKmV0POokkY/SiFiygpLIwI/AAAAAAAAAHI/AireYNYav9k/S220/me+and+syifa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OKmV0POokkY/ReBuHis2U0I/AAAAAAAAABU/p0dxDDVpm0k/s72-c/100_4062.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
